hero
(NET/ Yusuf Hanggara)

EDITOR : SUWARDI ROSADI

16 Desember 2019, 11:05 WIB

KOTA SEMARANG, INDONESIA

Peluh keringat, tangan kecil mereka mengaduk tanah. Bukan demi diri sendiri, tapi lingkungan sekitar. 

"Iya seneng. Bisa tanam itu (bibit pohon)," kata Hasanaya Pranoto, siswa Sekolah Luar Biasa Yayasan Peduli Anak Cacat Semarang (YPAC) tersenyum lebar. "Pengen lagi." 

Begitulah keceriaan puluhan anak berkebutuhan khusus saat menanam pohon di taman Tambak Lorok, Kota Semarang, Minggu, 15 Desember 2019. 

Bersama Mahasiswa Pecinta Lingkungan Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Nebula Indonesia menggelar pengenalan lingkungan kepada penyandang disabilitas.

"Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja akhir tahun di organisasi kami. Kami ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga bisa peduli terhadap lingkungan, lewat cara paling simpel, menanam," ujar Adrie Riyanto Barisandi, Ketua Nebula Indonesia di lokasi.

Total 60 bibit pohon mulai bibit pohon sengon laut, jambu biji hingga pucuk merah ditanam di taman RT 04 RW 15 Tambak Lorok, Kota Semarang. Area tersebut dipilih lantaran kepedulian warga setempat dalam perawatan tanaman.

"Taman disini dipilih karena antusias warga lokal merawat tanaman. Terlebih masih ada beberapa titik yang belum ditanam," lanjut Adrie.

Waktu penanaman digelar saat musim penghujan, agar tanaman mendapat suplai air yang cukup. Bibit sengon laut dan pucuk merah serta jambu biji dipilih, karena memiliki banyak manfaat, mulai sebagai peneduh dan berbuah.

"Jika saudara saudara kita yang difabel saja bisa dan mau merawat lingkungan, kenapa anda tidak?" pungkas Adrie.

Warga merasa terbantu atas kehadiran penanaman pohon tersebut, sementara Kepala Sekolah Luar Biasa YPAC Semarang, Tugimin apresiasi kerja sama dengan Nebula Indonesia. Kegiatan ini baru pertama kali diadakan bersama kaum difabel.

"Sangat bagus sekali dan saya merasa tersanjung, bahwa YPAC ini merupakan baru pertama kali, ikut menjaga lingkungan penanaman pohon baru pertama kali, belum pernah ada," kata Tugimin.

Ia berharap acara bisa digelar kembali di masa mendatang, karena bisa mengurangi stigma terhadap kaum difabel dalam aktivitas sehari hari.

"Maka ke depannya dapat diadakan kembali dengan catatan sesuai kemampuan." tandas Tugimin.

 

YUSUF HANGGARA

5

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments