hero
(Pixabay)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

12 Desember 2019, 11:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

“New Year New Me” kalimat itu kerap jadi ucapan banyak orang jelang pergantian tahun. Nah, pas juga tahun 2020 sudah semakin dekat, biasanya banyak orang yang mencoba menyusun rencana di tahun 2020 dengan resolusi.

Namanya resolusi biasanya berisi harapan ataupun cita-cita yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi, ada riset yang menemukan kalau ternyata banyak yang gagal dengan resolusi mereka.

Ada riset yang dipublikasikan Jurnal of Clinical Psychology study University of Scranton yang menemukan jika resolusi individu sering hanya refleksi jangka pendek, dan hanya 8 persen orang yang berhasil mewujudkan resolusinya.

Ini artinya sebanyak 92 persen orang yang pernah membuat resolusi itu gagal mewujudkan resolusi tahunannya. Ternyata, probabilitas berhasilnya resolusi di wujudkan itu 50 persen. Kalau dilihat dari usia, hanya 39 persen orang dengan usia 20-an yang berhasil commit dengan resolusinya.

Usia di atas 20 sampai 50 tahun, hanya 14 persen orang yang berhasil mewujudkan resolusi tahuannya. Lucunya nih, banyak yang tidak mampu memperjuangkan resolusi tahunan lama lama loh.

(Pixabay)

Dari hasil riset kebanyakan orang hanya bertahan tujuh hari alias satu minggu dengan resolusinya. Hanya sedikit yang mampu bertahan sampai dengan enam bulan. Jadi biang kerok dari resolusi gagal apa yah?

Berdasarkan riset psikologi kilinis penyebabnya beragam. Ada akibat resolusi itu tidak disertai perencanaan rigid soal cara pencapaiannya, ada juga akibat banyak orang yang membuat resolusi dengan buru-buru karena emosi, ada juga karena orang tidak mendapatkan tekanan untuk mempertahankan resolusinya.

Steven Covey, penulis The Seven Habits of Highly Effective People menuliskan kalau habit itu butuh pengkondisiian. Nah itu pun berlaku dengan resolusi. Untuk mencapai resolusi, sebelum disusun kondisikan mental untuk target yang ingin dicapai.

Sangat baik jika fokus dengan jumlah target yang sedikit dalam resolusimu. Jika sudah tersusun dan terencana, bangunlah komitmen dengan diri dan lawan sikap permisif. Ini teorinya, yang ujung-ujungnya kembali ke kamu. Jadi bagaimana? Sama diri sendiri saja enggak komit bagaimana sama dia?

ARIS SATYA  

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments