hero
Para pelaku peretas data perbankan ditangkat Satuan Cyber Crime Polda Jawa Timur (NET\Yudha)

EDITOR : OCTOBRYAN

5 Desember 2019, 19:30 WIB

KOTA SURABAYA, INDONESIA

Ulah hacker atau peretas sistem komputer memang meresahkan. Sudah tak terhitung lagi kerusakan dan dampak yang ditimbulkannya selama beraksi. Tidak hanya menyebar virus berbahaya yang dapat melumpuhkan jaringan komputer, mereka juga bisa mencuri data perbankan.

Seperti yang baru-baru ini terjadi di Surabaya, Selasa 3 Desember 2019, Kepolisian menggerebek kelompok peretas yang beraksi dari sebuah ruko di kawasan Balongsari Tama.

Satuan Unit Cyber Crime Polda Jawa Timur menggerebek sindikat peretas yang bermarkas di Surabaya. (NET\Yudha)

Kelompok peretas beranggotakan 18 orang ini memiliki modus dengan cara membuat spam di internet. Mereka memancing korban agar masuk ke dalam sistem informasi yang telah disiapkan untuk mencuri data kartu kredit.

"Sementara ini, korbannya terbanyak dari Eropa dan Amerika Serikat," ujar Kepala kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan kepada NET.Z.

Luki menjelaskan, pelaku sengaja menggunakan Internet Protocol (IP) asing. Sebab apabila menggunakan IP Indonesia, praktik mereka akan mudah terdeteksi dan memerlukan verifikasi nomor telepon selular.

Kepala kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan menunjukkan barang bukti hasil kejahatan di Mapolda Jawa Timur. (NET\Yudha)

Para peretas kartu kredit ini berhasil meraup keuntungan $ 40.000  per bulannya, atau lebih dari Rp 5 miliar per tahun. Sebagian besar peretas yang berperan sebagai “operator” ini merupakan lulusan SMK. Mereka memasuki dunia peretasan setelah direkrut oleh Hendra Kurniawan yang menjadi otak dari sindikat kejahatan siber ini.

"Pelaku masih muda muda, punya kemampuan IT luar biasa. Nanti kita pilah-pilah, nanti kita arahkan tapi diproses secara prosedur," jelas Luki.

(BACA JUGA: Korea Utara di Balik Serangan Malware WannaCry)

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan 23 CPU rakitan, puluhan monitor, puluhan buku rekening dan puluhan kartu ATM.

Dalam perkara ini, para tersangka dijerat pasal Pasal 30 ayat (2), Pasal 46 ayat (2), Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 48 ayat (1) UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

YUDHA WARDHANA | ARIS SATYA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments