hero
(NETZ)

EDITOR : ALBERT SUMILAT

29 November 2019, 22:05 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Fazlur Rahman, penyandang tunanetra yang nyaris tertabrak kereta karena terperosok di celah antar peron dan Commuter Line di stasiun Cikini pada Minggu, 17 November 2019 lalu, melakukan trauma healing di lokasi tempat ia terperosok di stasiun Cikini. Pelan namun pasti, pria yang kerap dipanggil Alun ini menapak tilas rutenya menuju ke dalam stasiun Cikini ditemani rekan-rekannya dari Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jakarta. Aktivitas trauma healing ini diharapkan dapat membantu Alun untuk kembali beraktivitas menggunakan Commuter Line kembali.

Fazlur Rahman, Pengguna Dengan Disabilitas Yang Terjatuh di Stasiun Cikini. (NETZ/ Anan Surya)

"Yang saya rasakan itu pasti takut, kalo tidak ada rasa sensitivitas atau kepekaan kepada kita itu tidak akan bisa untuk merasakan nyaman dan nikmatnya menjadi passenger kereta", ujar Fazlur Rahman di Stasiun Cikini, Jumat sore, 29 November 2019.

Menurut Alun, pada hari nahas itu ia sudah dituntun oleh petugas hingga dititik dekat dengan gerbong, hanya saja ia mendengar aba-aba untuk naik dan ia melakukannya tanpa mengetahui didepannya ada gerbong atau tidak. Kaki Arul merosot kebawah karena ia mengganggap ada rangkaian gerbong kereta didepannya, hingga posisi badannya masuk. Akibat terjatuh, Arul mengalami luka lebam dan sakit pada bagian persendian di beberapa bagian tubuhnya. "Didalam kereta (saya) dibiarkan sendiri duduk, lalu saya buka kaki saya dan memeriksa diri saya dan menanyakan pada penumpang, dan mereka bilang ada darahnya", tambah Fazrul.

Fazlur Rahman atau Alun saat melakukan Trauman Healing di Stasiun Cikini, Jumat sore (29/11). (NETZ/ Anan Surya)

Dikutip dari website krl.co.id, Perwakilan PT KCI pada Senin, 25 November 2019 telah mendatangi Fazlur Rahman di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah untuk meminta maaf dan menjelaskan sejumlah kebijakan terkait layanan kepada pengguna dengan disabilitas selain berjanji akan memperbaiki regulasi. 

Menanggapi hal ini, Alun menganggap itu hanya pernyataan normatif yang mana dirinya tetap akan menuntut Kementerian Perhubungan, agar memberi sanksi kepada PT KCI berupa class action dan somasi sebagai bukti komitmen taat peraturan. Dan Alun berharap agar regulasi Standar Operating Procedure terhadap penyandang disabilitas di Indonesia  bisa disesuaikan sehingga kurangnya sensitivitas dari petugas dalam menyediakan layanan penggunaan kendaraan umum menjadi berkurang atau hilang. 

Fazlur Rahman dan rekan-rekannya yang mendampingi saat melakukan Trauma Healing di Stasiun Cikini, Jumat sore (29/11). (NETZ/ Dea Githa)

Fazrul Rahman, penyandang tunanetra korban ini juga menyatakan pada hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember nanti, ia ingin mengajak para regulator dari Presiden Joko Widodo, Menteri Perhubungan, KAI dan KCI untuk mencoba merasakan apa yang dirasakan para penyandang disabilitas. "Negara wajib memberi komitmen dan ketegasan dalam mewujudkan transportasi yang ramah akses dan mudah bagi penyandang disabilitas, sebab jika tidak sekarang kapan lagi," pungkasnya.

DEA GITHA | ANAN SURYA

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments