Mentari pagi sudah merangkat naik, para pencari suaka terlihat antre di depan pos keamanan berukuran tiga meter kali tiga meter untuk mendapatkan jatah makan siang mereka. Rasa khawatir nampak dari wajah-wajah yang belum mendapat giliran.

Angin genit berhembus menyusup ke dalam bekas Gedung Kodim, Kalideres, Jakarta Barat yang kini dijadikan tempat pengungsian sementara untuk 1.081 warga negara asing pencari suaka dari tujuh negara yang mengalami konflik. Sekilas terlihat anak-anak melemparkan senyuman khas tatkala mereka asyik bermain bola di sekitar halaman gedung.

Para pencari suaka tersebut telah tinggal di Indonesia bertahun-tahun lamanya. Mereka harus memendam rasa ingin pulang ke tanah airnya serta menahan rindu bertemu saudara.

Beberapa dari mereka sengaja menyimpan barang kenangan sebagai pengingat rumah,teman dan sahabat. Tentunya, barang itu menjadi sangat berharga melebihi apapun yang mereka miliki sekarang. 

Suami istri Muhammad Abdullah Alwadiye (33) dan Ekkhlas Abbas (30) contohnya. Pasangan asal Sudan yang sudah tiga bulan tinggal di Indonesia itu memiliki benda kesayangan berupa cincin pernikahan yang dia bawa dari negara asalnya.

Cincin itu jadi satu-satunya barang berharga yang tersisa dan menjadi obat rindu jikalau teringat rumahnya di Sudan. Muhammad dan Ekkhlas saat ini tengah menunggu kelahiran sang buah hati.

Sementara itu, di sudut lorong gedung, ada seorang wanita asal Irak yang sudah tinggal di Indonesia selama empat tahun bernama Rasha (31). Kecewa kepada negara yang mengalami konflik dan keluarga menjadi salah satu landasan Rasha meninggalkan Irak.

Untuk mengisi aktivitas sehari-hari, perempuan ini selalu menggunakan sepatu kets berwarna putih. Menurut dia, sepatu itu sebagai penawar rindu dan menemani kesendiriannya di Indonesia.

Di lantai dua, salah satu kamar terisi satu keluarga asal Afghanistan bernama Abdul Zabi (29) dan Nazifa (22). Mereka sudah satu tahun berada di Indonesia. Roti khas Aghanistan yang selalu dikirim kerabatnya menjadi teman sehari-hari untuk mengobati kerinduan pada negara yang mengalami konflik tersebut.

Sedangkan di dalam tenda, terdapat dua orang anak berkebangsaan Sudan yang sangat suka bermain ukulele. Alunan musik dari gitar senar empat itu dapat meredam rasa trauma pada anak-anak pencari suaka yang berada di tempat penampungan tersebut. Lagu-lagu dari Sudan dimainkannya sebagai pengiring melodi rindu kampung halaman. 

Lain halnya dengan Muhammad Eshaq (17), pencari suaka asal Sudan yang sudah tinggal di Indonesia selama tujuh bulan. Berbekal sepatu sepak bola, dia mencari uang dengan cara bermain dengan warga sekitar. Semakin banyak dia mencetak gol, semakin banyak rupiah yang dia dapatkan. Bagi dia, bermain bola menjadi penghibur untuk melupakan sejenak kepenatan hidup. 

Berbeda dengan para pencari suaka dari Sudan, Irak, dan Afghanistan. Pria kulit hitam asal Somalia bernama Syakir (24) yang sudah enam tahun berada di Indonesia itu terlihat sangat ceria tanpa ada beban hidup.

Dengan gaya perlente dia selalu tersenyum memamerkan salah satu giginya yang berbalut perak. Diapun hanya tersenyum lebar ketika ditanya tentang gigi itu. Tapi dari senyumannya terbaca, ada sebuah kenangan indah dari gigi perak itu.

Kini, ribuan pencari suaka hanya bisa berharap pada UNHCR agar segera memberikan perlindungan, tempat tinggal layak, dan kebebasan. Bagi mereka, kemanapun tempat berlabuh, rindu itu tetap akan abadi.

Foto dan Teks : Rivan Awal Lingga

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments