hero

EDITOR : DIAN KENCANA DEWI

21 Oktober 2019, 09:44 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

10 Oktober jadi hari perayaan kesehatan mental sedunia. Peringati momen itu, artis Ariel Tatum ingin berbagi tentang masalah jiwa yang dihadapinya hingga sekarang. Sabtu, 19 Oktober 2019, ia menggelar acara Let End the Shame, sebuah diskusi tentang kesehatan mental di Promenade Thamrin, Jakarta. 

Poster seminar Let's End the Shame.

Penyanyi dan mantan artis sinetron ini terang-terangan mengaku pernah dirawat di rumah sakit jiwa. "Saat itu kejadiannya jelang tahun-tahun awal SMA, aku pernah ke Sanatorium Dharmawangsa. Di sana aku merasa nyaman, bertahun-tahun aku di situ," ujar Ariel menyebut salah satu rumah sakit jiwa swasta di kawasan Jakarta.

Suasana seminar.

Ariel Menyadari Ada yang Salah dengan Dirinya dan Mencari Bantuan

Ariel sadar kejiwaannya tak beres sejak usia 13 tahun. Ariel merasa selalu dilanda kecemasan akut. Kecemasan itu bahkan sudah mengganggu aktivitasnya. Karena itulah, Ariel diam-diam mencari pertolongan ke psikolog yang ada di sekitar. "Lima psikolog aku datangi, waktu itu aku minta sopir anterin," ceritanya. Berbekal uang tabungannya, Ariel konsultasi dengan lima psikolog. Saat itu, ia belum menceritakan masalah kejiwaannya pada keluarga.

Ariel juga belum percaya diagnosa yang diberikan psikolog tentang kejiwaannya. Ia malah mencoba diagnosis dirinya sendiri lewat bantuan google. "Ketik (gejala) pusing yang keluar kanker. Yang ada malah takut sendiri," tambah Ariel.

Ariel Tatum ketika berbagi cerita tentang kejiwannya. 

Sempat berhenti ke psikolog, gangguan mental Ariel makin parah. Bahkan ia sempat melukai diri sendiri dan bunuh diri. Ia juga sempat mendengar suara-suara orang lain yang seperti coba mengontrol dirinya.

"Aku sempat melukai diri sendiri, cari tempat yang enggak ada yang bisa melihat," kenangnya. Ariel pun memutuskan berobat ke Rumah Sakit Jiwa Sanatorium Dharmwangsa. Di rumah sakit itu ia bertemu dan konsultasi dengan Profesor Sasanto untuk berobat. 

Ariel Tatum berbagi kisahnya kepada peserta seminar.

"Jujur, di situ aku merasa bangga sama diri aku sendiri yang terus-menerus mencari bantuan. Karena aku tahu, kondisi aku ini sudah enggak normal, makanya aku butuh bantuan," tambah Ariel.

Pentingnya Dukungan Keluarga

Ariel kemudian mulai terbuka dengan keluarganya. Ia sempat takut tidak diterima keluarga, namun ternyata anggapan Ariel salah. Keluarganya malah mendukung Ariel untuk terus berobat. 

"Alhamdulillah keluargaku mendukung. Yang sedih di luar sana masih banyak keluarga yang malu," ujar Ariel yang menyebut di tempat dirinya berobat masih ada keluarga yang sembunyi-sembunyi dan tidak jujur akan kondisi putra-putrinya yang punya masalah mental. Padahal, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting bagi kesehatan mental seseorang.

NETZ. | JANUAR YUDHA

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments