Dua Tabuik bersiap dibuang ke laut saat puncak Pesona Hoyak Tabuik Piaman, di Pantai Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (15/9/2019). Ribuan orang menyaksikan atraksi budaya tahunan itu untuk memperingati Asyura 1441 Hijriyah.

Festival ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun, yakni sejak abad ke-19 Masehi. Acara ini tidak hanya menjadi bagian dari adat masyarakat setempat semata. Tapi juga sudah menjadi salah satu bagian dari pariwisata daerah.

Pelaksanaannya dilakukan dalam satu rangkaian yang juga untuk memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yang bernama Hussein bin Ali. Peringatan ini selalu dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Sesuai dengan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein Bin Ali yang meninggal dalam perang di padang Karbala.

Kata Tabuik sendiri merujuk pada penggunaan bahasa Arab ‘Tabut’, yang berarti peti kayu. Nama itu mengacu pada legenda pascakematian cucu nabi, yakni munculnya makhluk seekor kuda bersayap dengan kepala manusia. Makhluk itu disebut Buraq.

Dalam legenda itu dikisahkan bahwa peti kayu yang dibawa oleh makhluk tersebut berisi potongan jenazah Hussein Bin Ali. Nah, dari situlah dalam festival Tabuik selalu muncul makhluk tiruan buraq untuk mengusung peti kayu ‘Tabut’ di atas punggungnya.

TIM LIPUTAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments