hero

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

2 September 2019, 13:00 WIB

MALAYSIA

Afiq enggak pernah menyangka jika perjalanan hidupnya menginspirasi banyak orang. Kisahnya dimulai ketika ia pernah dikeluarkan dari sekolah Malaysia karena mendapatkan nilai terendah, namun lulus dengan nilai tertinggi di Inggris sembari bekerja sebagai petugas kebersihan.

Kisah itu diunggah oleh Khairul Aiman Hamdan di akun Facebook, ketika itu Afiq mendapatkan nilai di bawah standar. Ia hanya mendapatkan nilai 4 dari standar nilai 6. Akibatnya, Afiq ketinggalan melanjutkan sekolah sebulan karena tidak ada sekolah di daerahnya yang mau menerimanya.

Keluarga Afiq tak putus asa, ibunya meminta bantuan kepada instansi pedidikan setempat untuk menerima anaknya di sekolah lain. Saat berada di sekolah barunya, Afiq memilih jurusan Akuntansi dan ia bertekad untuk menekuni bidang tersebut.

Ia berhasil mendapatkan 10 mata pelajaran dengan nilai A dan 1 nilai B. Dari situkah, ia mendapatkan beasiswa Jalur Prestasi Akademik (JPA) untuk menempuh pendidikan di Inggris tepatnya di Universitas Of Essex.

“Alhamdulillah, saya menerima 10 A dan 1 B untuk SPM dan ditawari beasiswa JPA untuk belajar di Inggris,” ujarnya seperti dikutip dari akun Facebook Humans of Kuala Lumpur pada 2 September 2019.

Ketika Afiq diterima di University of Essex, ayahnya mengadakan syukuran dengan tamu sebanyak 500 orang. Pada saat menempuh pendidikan di Inggris, ada satu titik dimana Afiq ingin menyerah dan pulang ke kampung halamannya. Namun, sang Ayah menentang keras pendapat itu dan menyuruhnya untuk terus belajar.

Dari situ ia mendapatkan inspirasi dari Ayahnya yang bekerja sangat keras demi menafkahi keluarga. Tidak hanya belajar, Afiq juga bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan di kampusnya dimulai dari jam 5 pagi hingga kelas tiba.

Ia mengaku merasa senang dengan apa yang ia lakukan, karena pekerjaan ini tidaklah sulit ketimbang apa yang ia kerjakan di kampung.

“Saya merasa senang ketika tahu bahwa saya membantu orang lain dengan membuat universitas bersih. Sebenarnya itu jauh lebih mudah daripada bekerja di desa. Saya tidak harus bekerja di bawah sinar matahari, melakukan pekerjaan berat, dan mengangkat barang-barang berat," ungkapnya.

Afiq bekerja 3 hari dalam seminggu dengan waktu 5-6 jam perhari dan mendapatkan 1,7 juta setiap minggunya. Ia juga mengatakan bahwa orang-orang di Inggris sangat berbeda, mereka tidak menganggap pekerjaan ini sebagai pekerjaan yang “rendah”, mereka sangat menghormati orang lain.

“Di Inggris, orang tidak memandang rendah saya sebagai seorang pembersih. Mereka penuh perhatian dan meminta maaf ketika mereka secara tidak sengaja menginjak tempat yang sudah saya bersihkan,” ucapnya.

Selama 2 tahun pertama, Afiq menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadinya. Setelah itu ia mulai menabung uang untuk membeli tiket pesawat agar kedua orang tuanya dapat hadir saat wisuda.

Ia menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya mereka naik pesawat dan berpergian keluar Malaysia, dengan ini Faqih berharap momen tersebut akan menjadi kenangan berarti bagi orang tuanya. Karena tanpa dukungan dan doa dari mereka, ia tidak akan berada  pada titik ini. Faqih juga berharap jika suatu hari nanti ia mampu menaikkan kedua orang tuanya pergi haji ke Mekah.

WORLD OF BUZZ

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments