hero
(NEWS AAMC)

EDITOR : RIKHA INDRIASWARI

17 Juli 2019, 17:07 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) kembali terjadi. Yang menjadi korban kali ini sebanyak 26 perempuan Indonesia. 16 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sementara 10 orang lainnya berasal dari Jawa Barat.

Modusnya dengan cara diiming-iming mendapatkan kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih mapan, melalui pernikahan dengan warga Cina di negaranya. Atau biasa dikenal ‘pengantin pesanan’.

Seorang perempuan di antara banyaknya korban tersebut adalah IP (14). Perempuan asal Mempawah, Kalimantan Barat.

IP mengaku awalnya ditawari temannya, yang kemudian diperkenalkan dengan orang yang disebut ‘makcomblang’. Ia ditawari menikah dengan orang Cina. Dan dipaksa berbohong, dengan mengubah identitasnya menjadi umur 20 tahun.

“Pengalaman saya pertama dijanjikan sama makcomblang, dibilang kalau nikah sama orang Beijing hidup terjamin dan bisa bikin rumah orang tua, membahagiakan orang tua. Kirim duit kapanpun kita mau pulang bisa,” ujar IP di kantor Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jalan Pengadegan Utara I, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (16/7/2019).

Tapi, pada kenyataannya IP tak pernah dinikahkan secara resmi dan malah jadi buruh. Yang lebih miris ia dipekerjakan tanpa upah.

IP dan YM (tengah), 2 perempuan Indonesia yang menjadi korban kasus 'pengantin pesanan' di Cina, Kantor SBMI, Jakarta. (NET/ Jordie)

Pengakuan yang sama juga dirasakan oleh korban lainnya. YM (28), juga berasal dari Kalimantan Barat.

YM mengaku dijanjikan oleh ‘makcomblang’ akan diberikan mahar Rp20 juta dan dibelikan rumah di kampungnya. Serta akan mendapat kehidupan yang lebih terjamin.

Selain itu, 'Makcomblang' tersebut juga mengatakan ke YM bahwa ia akan dikirimkan Rp5 juta tiap bulannya. Kemudian akan dibelikan apartemen dan hidup enak di kota.

Namun, kenyataannya YM hanya hidup di sebuah kampung yang ada di Cina. Pria yang menikahinya tak lain hanyalah penduduk Cina yang bekerja sebagai petani. Dengan latar belakang keluarga yang ternyata juga bukan orang kaya.

Alih-alih mendapatkan kebahagiaan berumah tangga. Ia malah tak pernah merasakan indahnya menjadi seorang istri. Tanpa dinikahi secara sah, YM tak pernah dinafkahi, ia dipaksa bekerja selama 4 bulan tanpa digaji.

Ketika YM minta pulang, justru ancaman yang ia dapatkan. Ia juga mengaku kerap mendapat kekerasan fisik.

“Mereka kejam, salah sedikit ditendang, dipukul macam cara memaksa semuanya. Kita dianggap sebagai robot di sana mereka yang atur. Kita bukan istri tapi diperbudak,” ungkap YM.

Sementara itu, Ketua Umum SBMI, Hariyanto mengatakan diperkirakan masih banyak wanita yang menjadi korban. Ia berharap pemerintah berperan aktif menangani perkara ini.

“Banyak upaya yang dilakukan oleh pihak SBMI, salah satunya mendatangi pemerintah. Supaya berperan aktif dalam pemulangan korban-korban di Cina. Namun, ada beberapa kesulitan yang mendasar kenapa korban sulit dipulangkan,” jelas Hariyanto.

Saat ini masih ada belasan korban asal Jawa Barat yang berada di Cina. Oleh karena itu, Hariyanto berharap pemerintah segera menelusurinya.

ESTHER CRAMER

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments