hero

EDITOR : DIAN KENCANA DEWI

9 Juli 2019, 08:45 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Korea Utara dan Korea Selatan pernah bersatu sebagai semenanjung Korea. Namun, sejarah kelam menerpa mereka hingga terbelah dua. Untuk menjadi tanda pembatas kedua negara, dibentuk wilayah Demilitarized Zone (DMZ).

Potret penjagaan di DMZ, ekspresi dan suasana di musim dingin. (NET/ Bandha Prasetyo)

Selama lebih dari 50 tahun, DMZ menjadi wilayah yang sangat dijaga ketat. Masyarakat umum dilarang mengunjungi bahkan mendekati wilayah militer ini. Karena itu, selama berpuluh-puluh tahun DMZ menjadi tempat bagi flora dan fauna bisa tumbuh dengan bebas. Di sisi lain, banyak yang menyebut DMZ sebagai tanah kematian dan keputusasaan. Dan seorang fotografer ternama asal Korea Selatan, Choi Byung Kwan, menyaksikan serta mengabadikannya selama bertahun-tahun di sana.

Topi dengan lubang peluru yang sudah bertahun-tahun ditelantarkan, ditumbuhi bunga cantik. (NET/ Bandha Prasetyo)
Cantiknya bunga dan karat pada kawat besi di DMZ jadi saksi bisu sejarah. (NET/ Bandha Prasetyo)

Yup, Choi Byung Kwan merupakan satu-satunya fotografer sipil asal Korea Selatan yang diberi izin istimewa untuk memotret DMZ. Menurut Choi Byung Kwan, DMZ merupakan tanah penuh harapan dan masa depan. Meskipun beberapa kali ia hampir meninggal ketika memotret di DMZ, bahkan harus dikawal tentara. Setelah melihat DMZ, ia semakin mengerti arti perdamaian dan kehidupan. Kepada NET.Z ia menceritakan proses di balik lensa ketika diberi kepercayaan menangkap kisah di DMZ:

Bagaimana awalnya Anda bisa terpilih sebagai satu-satunya fotografer sipil yang diizinkan memotret DMZ? Apakah ada seleksi khusus yang harus diikuti?

Tentara Korea Selatan menunjuk saya sebagai fotografer untuk memotret daerah DMZ. Saya juga harus menjalani tes khusus sebelum diberi izin untuk memotret.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk memotret DMZ?

Hal yang paling menarik adalah melihat kedekatan tentara Korea Selatan dan Korea Utara saat menjaga perbatasan masing-masing. Padahal keduanya saling berhadapan dengan masih membawa senjata mereka. Meskipun ada juga hal yang menakutkan bagi saya, salah satunya masih banyak ranjau aktif di zona DMZ.

Sejak ditunjuk, sudah berapa kali Anda masuk DMZ? Tahun berapa saja?

Saya memotret zona DMZ selama 6 tahun. Pertama tahun 1997-1998 selama dua tahun. Kedua tahun 2000-2003. Dan ketiga kalinya di tahun 2005. Jadi totalnya 6 tahun.

Apakah selama memotret Anda pernah meninggalkan wilayah DMZ atau tinggal selama bertahun-tahun di sana?

Selama memotret saya harus tinggal di wilayah DMZ sekurang-kurangnya selama 3-4 bulan. Saya juga mendapat libur kurang lebih selama 10 hari untuk keluar dari wilayah DMZ. Di saat itu saya cetak semua foto, lalu laporan. Kemudian saya masuk lagi ke wilayah DMZ.

Apakah foto-foto yang Anda ambil harus mendapat persetujuan dari tentara Korea?

Tahun-tahun terdahulu tidak ada kamera digital, masih pakai kamera analog. Jadi foto-foto tersebut harus dicetak. Foto yang sudah dicetak itu perlu dilaporkan ke Kementerian Korea, supaya mereka bisa tahu bagaimana situasi terbaru wilayah DMZ.  Baru selesai laporan, saya akan kembali ke wilayah DMZ untuk kembali memotret.                                  

Apa kesan Anda saat memasuki wilayah DMZ?

Setiap saya memasuki wilayah DMZ, kesannya seperti saya sedang berada di tengah perang. Karena zona DMZ masih berbahaya, jadi harus ada kewaspadaan yang tinggi.

Apakah ada perbedaan yang Anda lihat atau rasakan saat kunjungan pertama dan kunjungan terakhir?

Perbedaan yang paling mencolok adalah beberapa pos penjagaan sudah dihancurkan. Hal ini dilakukan setelah beberapa kali ada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) antara Korea Utara dan Korea Selatan. Totalnya ada 11 pos penjagaan di Korea Selatan dan Korea Utara dihancurkan.

Apakah setiap foto DMZ yang Anda ambil memiliki makna atau arti berbeda?

Sebenarnya setiap foto itu istimewa dan mengandung pesan spesial. Karena setiap foto yang saya potret hingga saat ini menyampaikan pesan perdamaian dan kehidupan. Namun, di setiap foto yang saya ambil ada pesan bahwa tidak boleh ada perang. Karena kehidupan itu sangat penting bagi kita semua.

Mengapa foto helm perang yang ditumbuhi bunga ini menjadi foto favorit Anda?

Foto ini adalah helm dari tentara yang meninggal karena kepalanya ditembak saat perang. Saat memotret ini, saya menangis. Karena saya pikir jiwa tentara yang gugur ini kembali hidup sebagai bunga.

Choi Byung Kwan di sebelah foto favoritnya. (NET/ Bandha Prasetyo)

Anda sudah mengadakan pameran DMZ ini di beberapa negara lainnya, selain Indonesia. Negara manakah yang paling berkesan bagi Anda? Mengapa?

Kalau di ASEAN, Indonesia merupakan negara pertama. Saya sudah pernah mengadakan pameran di markas PBB, Amerika Serikat dan juga di Jepang. Dan pameran di Indonesia merupakan pameran ke-45 saya. Tapi Indonesia merupakan negara yang paling menarik bagi saya. Karena peserta yang datang ke pameran saya sangat ramah. Dan juga mereka terlihat sangat antusias untuk memahami karya saya, pesannya apa. Saat melihat peserta pameran Indonesia saya sangat puas.

Apa harapan Anda dengan digelarnya pameran foto ini di seluruh dunia?

Saya harap dengan adanya pameran ini, Indonesia dan Korea bisa menjalin persahabatan lebih erat. Dan masyarakat Indonesia bisa berdoa untuk perdamaian, bukan hanya si semenanjung Korea tapi juga untuk seluruh dunia.

Suasana perbatasan Korut-Korsel yang tertangkap kamera Choi Byung Kwan. (NET/ Bandha Prasetyo)

Dari deretan foto dan obrolan dengan sang fotografer,  kita diingatkan bahwa Korea Selatan yang populer di negara kita punya akar yang sama dengan Korea Utara. Korea Selatan yang terkenal dengan gemerlap dunia hiburannya, dan Korea Utara yang terkenal dengan segala sesuatu yang terorganisir. Di antara kedua negara itu, terbentang saksi bisu sejarah kelam dengan secercah harapan ada perdamaian yang tercipta.

NET.Z | HALIMAH TUSADIAH

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments