hero
(ANTARA)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

9 April 2019, 18:40 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Sidang kasus penyebaran berita hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet kembali dilanjutkan, Selasa pagi. Agendanya masih sama dengan tiga sidang sebelumnya, yakni pemeriksaan saksi-saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU). Dalam sidang lanjutan yang ke-8 ini, JPU menghadirkan 4 saksi. Saksi pertama yang hadir adalah Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal. 

Dalam kesaksiannya, Said menyebut bahwa Ratna memintanya untuk dipertemukan dengan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Tujuannya, Ratna ingin menceritakan kasus penganiayaan yang belakangan diketahui ternyata bohong. “Setelah meminta waktu pada tanggal 2 Oktober, kita bertemu dan pada pertemuan itu Kak Ratna hanya mengulang cerita apa yang teman-teman sudah ketahui bahwa itu hanyalah kebohongan,” kata Said. 

Said menjelaskan tanggapan Prabowo yang mengatakan agar kasus tersebut dilaporkan ke polisi untuk mendapatkan visum. Prabowo bahkan berencana meminta waktu ke Kapolri untuk menyampaikan kasus tersebut. Said juga menyebutkan bahwa ia bersama tokoh nasional lainnya seperti Amien Rais dan Fadli Zon merupakan korban berita hoaks yang disampaikan terdakwa Ratna Sarumpaet. 

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet melambaikan tangan kepada wartawan usai mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (12/3/2019). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Sidang ke-8 ini ditunda hingga Kamis 18 April 2019, satu hari usai pemilu 2019, dikarenakan dua saksi lainnya, Khairullah dan Harjono tidak hadir. Dua saksi tersebut merupakan peserta demo di Polda Metro Jaya pada Oktober 2018 lalu. Mereka menuntut aparat keamanan untuk menegakkan hukum.

Ratna Sarumpaet menjadi terdakwa kasus penyebaran berita hoaks karena telah mengumbar berita bahwa ia dipukuli oleh dua laki-laki di Bandung hingga wajahnya lebam. Padahal fakta sebenarnya Ratna baru saja menjalani operasi bedah plastik tanggal 21-24 September 2018 lalu. Akibat perbuatannya ia terjerat pasal hukum pidana dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

DEA GITHA | JORDIE YONATAN 

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments