hero
(NET/Aulia Kurnia)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

9 Desember 2018, 09:05 WIB

JEPANG

Kereta menjadi salah satu transportasi yang sangat membantu bagi masyarakat Jepang. Memiliki total panjang rel sejauh 27.607 kilo meter, setiap harinya jutaan warga dapat diangkut. Namun tahukah kamu, ada hal-hal unik yang dimiliki oleh kereta di Negeri Sakura ini. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya:  

1. Tiap jalur punya akses kartu elektronik berbeda.

(NET/Aulia Kurnia)

Meski kita bisa membeli tiket sekali jalan atau single trip dengan menggunakan uang tunai. Namun jika mobilitas kita tinggi dalam menggunakan transportasi publik, baik kereta dan bus disarankan memiliki uang elektronik atau biasa disebut IC Card. 

Ada 25 jenis IC Card yang bisa digunakan di 5000 stasiun kereta yang tersebar di penjuru Jepang. Yang terkenal adalah SUICA dan PASMO. Perbedaannya, SUICA dijual untuk kereta JR sedangkan PASMO untuk kereta non-JR. 

Sebenarnya bisa digunakan untuk jalur yang beda, namun harganya akan lebih mahal. Tak hanya untuk pembayaran angkutan umum, kartu ini juga dapat digunakan untuk membayar parkir hingga sebagai alat pembayaran di sejumlah retail. 

Mayoritas penduduk Jepang punya kartu elektronik ini. Bahkan tercatat di wilayah Tokyo, digunakan oleh 96 persen warga ibu kota. Harganya sekitar 2000 yen yang terdiri dari 500 yen untuk deposit dan sisa 1500 yen berupa nilai unit yang kita miliki.

Bagi kamu yang ingin menggunakan jalur JR, bisa membeli JR Pass atau Japan Railway Pass. Berbeda dengan IC Card yang disentuh pada mesin, pengguna JR Pass hanya menunjukan kepada petugas semacam buklet yang berisi kartu dan data kita. Harganya sekitar Rp29  ribuan yen atau sekitar Rp3,7 juta untuk 7 hari. Dengan JR Pass kita bisa naik Shinkansen.

 

2. Punya penitipan tas berbayar dan gratis.

(NET/Aulia Kurnia)

Di sejumlah stasiun terdapat loker yang bisa disewa oleh pengguna. Loker di stasiun Jepang terdiri dari 2 jenis, yakni loker manual dan elektronik. Perbedaannya, terletak pada kunci yang digunakan. 

Untuk manual, pakai kunci biasa. Sedangkan elektronik dengan monitor atau panel layar sentuh atau screen touch. Di samping itu, pembayaran loker manual dengan uang koin, pada elektronik juga bisa menggunakan uang elektronik. Harga sewanya mulai dari 300 yen atau sekitar Rp39 ribu per hari.

Namun kalau kamu lagi travelling sendirian dan butuh menitipkan barang enggak terlalu lama, di salah satu stasiun di Tokyo punya tempat penitipan unik. Terletak di area dekat toilet, kita cukup memasang semacam tali kabel dan diikatkan ke sebuah tiang. Enggak bayar! Tapi kamu harus punya semacam uang elektronik untuk menge-tap-nya.

3. Rangkaian kereta tanpa awak.

(NET/Aulia Kurnia)

Di bawah naungan perusahaan milik pemerintah kota Tokyo, Nippori Toneri memiliki sistem tanpa awak pengemudi alias driverless (automated guideway transit). Hal ini terjadi karena sistem operasionalnya dikendalikan komputer. 

Berbentuk kereta layang atau sky train, di jalur ini kita bisa melihat kota Tokyo dan keindahan Gunung Fuji. Menghubungkan kawasan Nippori dengan Adachi di Tokyo total memakan waktu 20 menit untuk melintas. Hal ini sangat menghemat waktu 60 persen jika dibandingkan menggunakan bus 1 jam dengan jarak yang sama.

Harga tiketnya bervariasi tergantung jarak dan dimulai dengan 170 yen. Jika menggunakan IC Card, baik PASMO atau SUICA bisa digunakan. Kereta ini memiliki 5 gerbong yang dapat mengangkut sekitar 300 orang sekali jalan. Dengan kecepatan 60 kilo meter per jam, sekitar 86 ribu penumpang dapat diangkut per hari. Kereta ini penuh pada saat jam sibuk, yakni pagi hari di jam 7 hingga 9 pagi.  

4. Aturan soal etika di dalam kereta sangat serius.

(NET/Aulia Kurnia)

Warga Jepang terkenal dengan ketertibannya saat menggunakan transportasi umum. Meski begitu, sejumlah aturan terkait etika dalam kereta juga tetap dibuat. Aturan tersebut disosialisasikan via rambu-rambu atau sign yang ada di lantai hingga dinding, poster informasi hingga pengumuman lewat pengeras suara.

Para pengelola bisnis angkutan umum juga membuat sejumlah aturan yang diharapkan membuat penggunanya makin nyaman, yakni adanya kursi prioritas untuk disabilitas, adanya area untuk penempatan kursi roda hingga kawasan yang bisa menaruh baby stroller.

Yang unik, sejak tahun 2017 Pemerintah Jepang dan para operator ini membuat angket terkait perilaku mengganggu di kereta. Hasilnya, suara yang mengganggu dari telepon genggam menempati urutan pertama. Kemudian peletakan koper atau barang di gerbong kereta juga jadi perhatian para pengguna kereta dan perilaku makan, minum hingga menggunakan make up saat berkereta juga dianggap perilaku yang mengganggu.

5. Punya training center sendiri.

(NET/Aulia Kurnia)

Berbeda dengan Indonesia yang hanya memiliki PT KAI dan anak perusahaannya sebagai pengelola kereta. Jepang memiliki 200-an pengelola, baik yang berada di bawah pemerintah atau pun milik swasta. 

Masing-masing berupaya memberikan pelayanan yang terbaik. Bahkan dari 200-an operator, terdapat 35 pengelola yang memiliki pusat pelatihan atau training center sendiri. Misalnya yang dimiliki salah satu operator raksasa KEIO.

Di sana, enggak cuma menangani orang yang memegang kereta seperti masinis dan kondektur, tapi juga petugas yang memberi pelayanan terhadap pengguna. Pelatihan juga meliputi belajar sejarah kecelakaan yang pernah terjadi di negeri tersebut. Tujuannya mereka lebih waspada dan berupaya tidak mengulangi lagi di kemudian hari.

AULIA KURNIA

 

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments