hero
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

20 September 2018, 13:20 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa impor beras sebesar 2 juta ton merupakan hasil pembahasan di dalam rapat kordinasi yang dihadiri pula oleh Menteri Pertanian. Hal ini disampaikan oleh Enggar saat ditemui di kawasan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. 

Pernyataan Enggar ini menanggapi sikap Direktur Utama Bulog Budi Waseso yang tidak menyetujui kebijakan impor beras. “Itu keputusan rakor, bukan keputusan saya. Rakor menugaskan sesuai dengan Undang-undang dan Perpres, saya menugaskan Bulog,” kata Enggar. 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat menyampaikan kuliah umum Kebijakan Perdagangan dalam Menghadapi Pasar Global di Era Revolusi Industri 4.0 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, Jumat (14/9). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Enggar mengingatkan bahwa import beras adalah hasil keputusan bersama karena kemampuan produksi beras nasional berkurang dan hal itu diketahui oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. “Kenapa impor? Karena kemampuan produksinya yang kurang dan itu dihadiri juga Mentan (Menteri Pertanian) bahwa Bulog harus impor sesuai dengan rakor,” kata Enggar.

Enggar juga menjelaskan bahwa mekanisme impor beras yang diputuskan dari hasil rapat koordinasi, diantaranya meminta Bulog melakukan tender terbuka secara internasional untuk impor beras ke Indonesia ini. “Nah Bulog impor dengan cara tender terbuka, sekarang ini menjadi cadangan pemerintah untuk melakukan penetrasi ke pasar melalui Bulog,” ujar politikus Partai Nasdem ini.

Dirut Perum Bulog Budi Waseso (kedua kanan) dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) berbincang dengan pedagang beras di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Jumat (14/9). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan telah membentuk tim gabungan dari Bulog, Kementerian Pertanian dan beberapa instansi, serta tim independen untuk menganalisis perberasan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Rabu 19 September 2018. 

“Tim mengatakan dan merekomendasikan sampai bulan Juni 2019 tidak perlu impor,” tegas Buwas. “Dimungkinkan cadangan beras impor yang sekarang disimpan di Bulog tidak akan keluar sampai tahun ini. Kita tinggal menjaga ini. Masak kita bertahan harus impor?” lanjut mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini.

Tumpukan karung beras di gudang beras Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (30/8). (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

Buwas menantang pihak-pihak yang tidak menyetujui analisis tim Bulog untuk membantah.“Silakan hasil evaluasi analisis dari tim ini dibantah, tentunya dengan data juga karena ini berdasarkan pengumpulan data-data di lapangan, tidak asal-asalan, ada aturan cara hitungnya,” ujar Buwas. 

Silang pendapat antara Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog pun mengundang berbagai macam komentar di sosial media. Termasuk perbedaan data yang dipegang antar instansi. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Kementerian BUMN 2005-2010, Said Didu dalam cuitannya: 

Sementara itu, sikap berani Buwas sendiri mendapatkan banyak apresiasi. Salah satunya dari Guru Besar Hukum Tata Negara UII, Prof. Mahfud MD. 

Buwas menegaskan bahwa Bulog siap melaksanakan perintahnya. “Saya sudah membangun komitmen dengan seluruh jajaran, semua jajaran saya sudah men-declare sanggup dan siap melaksanakan ini, tidak ada kendala. Berarti nanti ada yang enggak melaksanakan, tinggal ganti, copot. Saya tinggal melaksanakan janji saja karena ini sudah amanah negara, kita harus laksanakan ini,” pungkas Buwas.
 
TIM LIPUTAN

 

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments