hero
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

30 Juli 2018, 15:40 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Berbagai upaya tengah ditempuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengusir bau menyengat yang keluar dari Kali Item atau Kali Sentiong. Salah satunya dengan pemasangan waring untuk mengurangi penguapan pada siang hari. 

Langkah ini memantik polemik di tengah masyarakat, termasuk dari kalangan peneliti lingkungan hidup. Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ir. Nusa Idaman Said, menilai upaya itu masih belum efektif untuk mengurangi bau dari aliran Kali Item. 

“Sebetulnya pemakaian jaring untuk mengurangi penguapan dengan ditutup untuk menahan panas matahari sehingga laju penguapannya berkurang. Ini kurang efektif,” ujar Said kepada Dimas Arif Setiawan dari NET, Minggu 29 Juli 2018. “Yang paling efektif dua-duanya harus dilakukan, dengan nano bubbles maupun dengan waring,” lanjutnya. 

Peneliti BPPT Ir. Nusa Idaman Said. (NET/Dimas Arif Setiawan)

Pemprov DKI memang telah memasang satu unit alat nano bubble dari Singapura di Kali Item. Alat nano bubble itu akan dipakai oleh Pemprov DKI Jakarta sampai gelaran acara Asian Games 2018 di Jakarta berakhir

“Upaya peningkatan konsentrasi oksigen dengan teknologi nano bubble yang menyemprotkan gelembung udara, seharusnya tidak hanya di satu titik, namun harus dilakukan di beberapa titik,” kritik Said. 

Said mengatakan bahwa bau yang keluar dari Kali Item akibat kurangnya pengolahan limbah domestik yang mengalir ke kali. Hal ini mengakibatkan oksigen yang berguna untuk mengurai polutan habis dan berubah menjadi gas metan yang menimbulkan aroma tak sedap.   

“Untuk jangka pendek ini, ya air limbah yang keluar diolah dulu sebelum dibuang ke sungai. Intinya adalah yang mengeluarkan limbah harus mengolah air limbahnya yang diatur dalam peraturan,” ujar Said.

Petugas membersihkan Kali Item di Kawasan Kemayoran, Jakarta, Sabtu 28 Juli 2018. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Selain teknologi nano bubble, aerator juga telah dipasang di Waduk Sunter dan Kali Item. Aerator berputar tanpa henti selama 24 jam, demi mengurangi bau tak sedap di aliran kali tersebut saat melewati Wisma Atlet Kemayoran. 

“Aerator mikrobubbles atau nanobubbles itu sebetulnya kalau dipasang akan dengan cepat meningkatkan konsentrasi oksigen dalam sungai. Dan yang lebih tepat lagi adalah menempatkan titik-titiknya, tidak hanya satu titik dan itu perlu disimulasi,” ujar Said. 

“Aerator mikrobubles itu sifatnya hanya sementara sehingga jika diterapkan secara permanen membutuhkan biaya yang sangat mahal,” lanjutnya. 

Foto aerial Wisma Atlet Kemayoran yang berada di dekat Kali Item di Kemayoran, Jakarta, Jumat 20 Juli 2018. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menutup Kali Item menggunakan jaring hitam untuk mengurangi bau tidak sedap dari kali tersebut agar tidak mengganggu kontingen Asian Games saat berada di wisma atlet. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Said mengingatkan bahwa DKI Jakarta sebenarnya sudah mempunyai perencanaan pengolahan air limbah secara terpusat dalam masterplan. Masterplan DKI Jakarta sampai tahun 2040-2050 merencanakan untuk mengolah airlimbah hampir 70-80 persen, tetapi itu membutuhkan biaya Rp. 60-80 triliun. “Tapi kalau dilakukan secara bertahap sebetulnya sudah selesai,” ujar Said.

Kali Item letaknya berdampingan dengan Wisma Atlet Asian Games 2018 menjadi sorotan media asing karena ditutupi waring atau jaring kasa hitam untuk mengurangi bau tidak sedap.

DIMAS ARIF SETIAWAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments