hero
Pengumuman ganjil genap. (ANTARA//Aprillio Akbar)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

14 April 2018, 07:00 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Martin berdiri di loket penyerahan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) Pilihan di Gedung Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Selasa, 10 April 2018  kemarin. Matanya melirik ke kiri kanan seraya menunggu petugas jaga.

Martin hendak mengurus pengajuan NRKB pilihan atau pelat nomor cantik. Dari dokumen yang dibawa, tertulis B -kode wilayah untuk Provinsi DKI Jakarta- disertai tiga angka di belakangnya. B 679 ***.

Martin mengaku ingin membuat pelat nomor cantik untuk menyiasati aturan ganjil-genap yang diberlakukan di beberapa ruas jalan Jakarta dan tol sekitar Jakarta. “Mobil di rumah genap, saya bikin yang ganjil,” kata Martin di Gedung Ditlantas Polda Metro Jaya, Jakarta.

Martin saat mengurus Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) di Ditlantas Polda Metro Jaya, Selasa kemarin. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Untuk membuat nomor pelat pilihan B 679 ***, warga Puri Kembangan, Jakarta Barat itu setidaknya harus merogoh kocek sebesar Rp7,5 juta. Martin mengatakan, lebih baik mengeluarkan biaya besar dibanding harus membuat pelat palsu atau menyiasati waktu ganjil genap.

Nggak berani buat palsu, kalau ketahuan bisa dikandangin mobilnya, makanya request pelat ganjil,” ujar  pria 40 tahun itu kepada  jurnalis NET.ZFarabi Ferdiansyah.

Berbeda dengan Martin, NET.Z bertemu dengan Alvin yang sedang mengambil pelat palsu di tempat pembuatan pelat dan stempel di wilayah Blok A, Jakarta Selatan.

 Salah satu tempat pembuatan pelat dan stempel di kawasan Blok A, Jakarta Selatan. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Warga Duren Sawit, Jakarta Timur itu mengaku sengaja membuat pelat palsu untuk mengelabui petugas saat melintas di ruas jalan yang menetapkan aturan ganjil-genap. Ia memiliki mobil dengan nomor pelat ganjil.

Alvin hanya menyiapkan uang sebesar Rp 150 ribu untuk mendapatkan satu pelat dengan nomor genap. “Biar keren aja, B 6032 ***. Untuk ngakalin ganjil genap,” kata Alvin, Senin kemarin.

“Ribet juga kalau begini, masak beli mobil dua kita,”  ujar dia.

Contoh pelat nomor di salah satu tempat pembuatan pelat dan stempel di kawasan Blok A, Jakarta Selatan. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Martin dan Alvin merupakan potret dua pemilik kendaraan di Jakarta yang hendak menyiasati kebijakan ganjil-genap di sejumlah jalanan di Ibu Kota. Singkat kata, mereka ingin cari cara terhindar dari aturan pembatasan kendaraan itu.

Kepala Subdit Registrasi dan Identifikasi Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Sumardji menjelaskan, pembuatan pelat nomor cantik ini banyak dimanfaatkan oleh warga yang memiliki dua kendaraan. Tujuannya untuk menyesuaikan aturan ganjil-genap.

“Ini juga dimanfaatkan ketika masyarakat atau wajib pajak itu memiliki dua kendaraan, satu mungkin ganjil maka satunya dibuat genap,” ujar Sumardji di ruangannya, Selasa, 10 April 2018. 

Kepala Subdit Registrasi dan Identifikasi Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Sumardji. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Sumardji mengatakan, terjadi peningkatan pengajuan pelat nomor cantik di awal 2018 ini. Menurut dia, ada 70 hingga 80 orang yang mendaftar untuk mendapatkan pelat nomor cantik.

Angka ini naik dibanding awal 2017 lalu. Setiap harinya pendaftar berkisar 50 orang. “Terkadang mencapai 100 unit. Tapi kalau dikalkulasikan setiap bulan, ada peningkatan antara 5-10 persen,” tambah Sumardji.

Loket Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) Pilihan di Gedung Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Peraturan pembuatan pelat nomor pilihan telah ditetapkan oleh pemerintah melalui PP Nomor 60 Tahun 2016 tentang jenis dan tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dalam PP tersebut juga diatur mengenai biaya penerbitan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) pilihan.

Tarifnya berkisar Rp5 juta untuk pembuatan nomor pilihan 4 angka disertai huruf, dan maksimal Rp20 juta untuk pembuatan nomor pilihan 1 angka tanpa huruf dengan masa sertifikat nomor selama 5 tahun.

Papan pengumuman tarif penerbitan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) pilihan. (NET/Farabi Ferdiansyah)

Sumardji mengatakan NRKB atau nomor cantik memang memiliki biaya tersendiri berbeda dengan NRKB biasa. “Nanti kalau habis masa berlakunya harus bayar PNPB dari awal lagi, misalkan Rp 5 juta, ya Rp 5 juta lagi bayar,” jelasnya.

Meski harus mengeluarkan uang yang cukup besar, Iwan, salah satu pendaftar nomor pelat cantik mengaku tidak terbebani jika hasil uang  tersebut masuk ke kas negara.

“Karena sudah aturan diterapkan pemerintah saya setuju saja, daripada masuk pungli, mending bayar resmi tapi masuk ke kas negara,” ujar Iwan.

FARABI FERDIANSYAH

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments