Silicon Valley di California adalah rumah besar bagi pekerja teknologi asal Cina. Belakangan tren ini menurun dengan banyaknya pekerja yang memilih pulang kampung untuk membangun negaranya.

Pesatnya industri internet di Negeri Tirai Bambu adalah alasan utama migrasi besar-besaran kali ini. Penyebab yang lain adalah minimnya kesempatan bagi orang Asia menjadi pimpinan perusahaan di Amerika Serikat.

Silicon Valley, kini, bukanlah satu-satunya kiblat di dunia teknologi. Raksasa-raksasa teknologi baru pun bermunculan di Cina. Sebut saja Alibaba dan Tencent yang kini masuk dalam jajaran 10 perusahaan paling bernilai di dunia, bersama denga Amazon dan Facebook.

Ada juga Baidu, raksasa mesin pencarian Negeri Tirai Bambu yang belakangan berhasil menggaet mantan VP Global Microsoft, Lu Qi, untuk mengembangkan Artificial Intelligence.

Hang Tung, Managing Partner firma ventura GGV mengatakan, semakin banyak insinyur teknologi asal Cina berpikir, kehidupan mereka akan lebih baik jika bekerja untuk perusahaan Cina. Dilansir Bloomberg, karyawan Silicon Valley yang memutuskan kembali adalah tonggak kemajuan bisnis masa depan Cina seperti kecerdasan buatan (AI) dan machine learning.

“Di Google, LinkedIn, Uber, dan AirBnB, ada engineer Cina yang menimbang-nimbang apakah mereka harus tetap bekerja di sana atau kembali,” ungkap Tung kepada Bloomberg.

Apple menjadi salah satu perusahaan teknologi yang banyak menggunakan pekerja asal Cina. (APPLE)

Sektor teknologi di Cina kini telah menjadi pilihan utama diaspora Negeri Panda yang pulang kampung, menggantikan sektor finansial yang sebelumnya memegang predikat tersebut.

Sebanyak 15,5 persen dari para pekerja Cina yang kembali ke negerinya berkecimpung di dunia teknologi, berdasarkan sebuah survei terhadap 1.821 orang yang dilakukan oleh Center for China and Globalization dan situs Zhaopin.com pada 2017.

Seiring dengan jumlah profesional, jumlah pelajar Cina di Amerika Serikat yang memutuskan kembali ke negara asalnya juga ikut meningkat. Tahun 2016 jumlahnya mencapai 432500 mahasiswa, meningkat 22 persen dibanding tahun 2013.

Adanya deskriminasi terhadap orang Asia semakin memantapkan pekerja Cina kembali ke kampungnya. Data keragaman di Silicon Valley mengungkap adanya bamboo ceiling atau batas pemisah bagi orang Asia yang hendak menduduki jabatan penting di perusahaan Amerika Serikat.

Sebagai contoh, terdapat 39 persen karyawan Google yang berasal dari Asia, namun, hanya 27 persen saja yang duduk di posisi manajerial. Di Apple 31 persen karyawannya berasal dari Asia, namun hanya 23 persen saja yang menduduki posisi manajerial. Di Facebook 49 persen karyawannya adalah orang Asia, namun, hanya 23 persen saja yang mampu menembus posisi manajerial.

BLOOMBERG | ZHAOPIN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments