hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

22 Oktober 2017, 22:54 WIB

INDONESIA

CEO NET Mediatama Televisi, Wishnutama Kusubandio memenuhi undangan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) untuk berbicara di konferensi politik luar negeri terbesar di dunia bertajuk 'Conference of Indonesia Foreign Policy' (CIFP), Sabtu, 21 Oktober 2017.

Dalam sebuah sesi ia duduk satu panel bersama CEO Telkomtestra, Erik Meijer, dan CEO Tokopedia, Wiliam Tanuwijaya. Ketiganya membahas peluang yang mungkin dipetik pengusaha lokal di tengah kompetisi global yang diikuti pebisnis-pebisnis besar dari seluruh dunia.

Menurut Wishnutama, perubahan mendasar pada industri media adalah peralihan platform dari konvensional ke digital. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan pengusaha lokal adalah dengan membuat konten (untuk mengisi platform tersebut) sebaik mungkin. 

"Bagaimanapun juga konten adalah raja, di Australia contohnya, 10 program terbaik diisi oleh konten-konten lokal, padahal mereka berbahasa Inggris," ujar Wishnutama.

 

Menjadi salah satu pembicara di Conference on Indonesian Foreign Policy 2017 #CIFP2017. Photo by @christmessakh

Sebuah kiriman dibagikan oleh wishnutama (@wishnutama) pada

Ditanyai ihwal masifnya investasi besar-besaran dari negeri Cina, Tama mengatakan hal tersebut tak dapat dihindari. Yang terpenting baginya adalah: apakah investasi itu menguntungkan dan memberikan banyak pelajaran untuk bangsa Indonesia.

"Kita dapat belajar banyak dari teknologi yang mereka bawa, ujungnya tentu saja, yaitu menggunakan teknologi tersebut untuk memproduksi konten lokal," tambah Wishnutama.

Dalam konferensi bertema besar 'Win-Winning ASEAN, Conquering Globalization', bisnis lokal di tengah kepungan investor dunia bukan satu-satunya materi yang dibicarakan. Masih terdapat 18 sesi terpisah yang membahas sejumlah isu meliputi: sentralitas ASEAN, poros maritim dunia, Laut Cina Selatan, kekerasan di Rohingya, Korea Utara, konflik Marawi, ISIS, perdagangan bebas, One Belt-One Road China, dan lain sebagainya.

CEO NET Mediatama Televisi, Wishnutama Kusubandio memenuhi undangan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) untuk berbicara di konferensi politik luar negeri terbesar di dunia bertajuk 'Conference of Indonesia Foreign Policy'. (NET/ ATHIF AIMAN)

Sejak didirikan pada tahun 2014, sudah tiga kali FPCI mengadakan konferensi politik luar negeri sejenis. Konferensi ini dihelat sebagai panduan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya untuk mengarungi globalisasi yang di masa kini mengalami perkembangan dengan sangat dinamis. 

"Globalisasi menjadi sorotan karena isu ini kembali mengguncang beberapa negara besar. Indonesia perlu mencermati arah globalisasi dalam 20 tahun ke depan. Jangan sampai salah membaca arus zaman dan salah melangkah," kata Dino Patti Djalal, pendiri FPCI.

FPCI merupakan organisasi nirlaba dan non-pemerintah yang berkecimpung dalam bidang hubungan internasional Indonesia. Didirikan oleh Dino pada 2014, organisasi itu mengklaim sebagai foreign policy group independen terbesar di Indonesia, dengan 40.000 orang yang menjadi bagian network-nya.

NABILLA PUTERI | ATHIF AIMAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments