hero

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

8 Oktober 2017, 16:00 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencabut sementara izin usaha T1, tempat spa khusus gay di Harmoni, Jakarta Pusat. Kepala Seksi Operasional Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Harry Apriyanto mengatakan, pencabutan izin usaha dan penghentian sementara kegiatan T1, karena bisnis yang dijalankan tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan Pemda DKI.

"Secara administrasi izin usahanya adalah tempat fitnes, tapi yang ditemukan sesuai fakta di lapangan tidak seperti itu. Dari situ sudah bisa kami tutup kegiatan usahanya," kata Harry di lokasi T1, Jakarta, Minggu, 8 Oktober 2017. 

"Dari pengamatan kami dan hasil di lapangan memang kegiatan usaha ini sudah melanggar Perda Kepariwisataan," sambung Harry.

Tempat spa gay yang berkedok usaha fitnes di Harmoni, Jakarta Pusat. (NET/Muhammad Derajat)

Pencabutan sementara izin usaha T1 ditandai dengan pemasangan stiker oleh petugas Satpol PP. Pencabutan izin, lanjut Harry, dilakukan sampai ada hasil penyelidikan kepolisian.

Sebelumnya polisi menggerebek T1 pada Sabtu dini hari, 7 Oktober 2017. Dari tempat yang diduga polisi sebagai tempat prostitusi gay itu, polisi mengamankan 51 pria. Sebanyak 44 orang adalah WNI dan 7 lainnya WNA asal Cina, Thailand, Singapura dan Malaysia.

Surat pemberitahuan penyegelan dan pencabutan izin sementara T1. (NET/Muhammad Derajat)

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, dari pemeriksaan terungkap biaya masuk ke dalam spa berkedok fitnes tersebut sebesar Rp 165 ribu.

"Masuk ke dalam spa ini bisa sendiri bisa berdua. Ini laki-laki ya, bisa sendiri, bisa dengan pasangannya," kata Argo di Mapolres Jakarta Pusat, Sabtu kemarin.

"Sekali masuk kemudian mendapatkan kondom dan minyak pelumas," sambung dia.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menunjukkan barang bukti saat penggerebekan T1. (NET/Radika Kurniawan)

Argo mengatakan, dari hasil pemeriksaan, polisi menetapkan enam orang sebagai tersangka, yakni GG, GCMP, NA, TS dan K. Mereka adalah pemilik dan karyawan tempat SPA tersebut. Mereka dijerat Undang-undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan atau Pasal 256 KUHP tentang Prostitusi. Polisi masih memburu satu orang lagi yang berinisial HE.

DELVIANA AZARI | RADIKA KURNIAWAN 

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments