hero
(REUTERS)

EDITOR : REZA ADITYA

6 Oktober 2017, 15:00 WIB

INDONESIA

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo mengatakan lembaganya menggandeng Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat untuk mengusut kasus korupsi e-KTP. FBI diperlukan untuk menelusuri aset milik Johannes Marliem.

"Kami kerja samanya sudah lama, kemudian Anda tahu dari berita di sana (Amerika) ada temuan yang mengarahnya ke Indonesia," kata Agus, Jumat, 6 Oktober 2017. "Jadi kami akan mengajukan mudah-mudahan ada hal yang didapat dari FBI."

Johannes Marliem. (TWITTER/johannesmarliem)



BACA JUGA:
Saksi Kunci e-KTP Johannes Marliem Tewas di Amerika
Johannes Marliem, Saksi Kunci Korupsi E-KTP dan Penyumbang Kampanye Obama


Johannes Marliem merupakan saksi kunci yang diyakini mengetahui rasuah pengadaan proyek kartu tanda penduduk elektronik.   Di sidang kasus tersebut, namanya sering disebut sebanyak 25 kali oleh jaksa.

Marliem juga di beberapa kesempatan  diketahui mengikuti sejak awal pembahasan proyek pengadaan e-KTP.  Dia bahkan merekam pembicaraan dengan semua orang yang diduga terlibat korupsi megaproyek itu.

Ilustrasi korupsi e-KTP. (NET.Z/Wishnu Adi)

 

Di proyek e-KTP, Marliem merupakan penyedia produk Automated Finger Print Identification System (AFIS) merek L-1. Marliem tewas di dengan luka tembak di kepala di kediamannya di Los Angeles, AS pada Agustus kemarin.

Kematiannya itu menyisakan misteri. FBI yang sebelumnya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum Indonesia menelusuri aset milik Marliem.

Agen khusus FBI Jonathan Holden seperti dilansir Star Tribune mengungkap aliran dana dan aset yang dimiliki Marliem. Tercatat pada tahun 2011, Marliem menyimpan uang senilai US$ 13 juta dari proyek pengadaan e-KTP.

Pengunjuk rasa membawa poster Ketua DPR Setya Novanto saat aksi di depan gedung KPK. (ANTARA)

 

Duit itu disebut FBI ditransfer dari Indonesia pada Juli 2011 sampai Maret 2014. Holden juga melaporkan dari duit sebanyak itu Marliem membeli jam tangan seharga US$ 135 ribu dari salah satu butik di Beverly Hills.

Jam tangan itu, menurut laporan FBI, diberikan kepada  pimpinan parlemen Indonesia yang saat ini sedang disidik kasus korupsi e-KTP. Laporan itu tak menyebut secara spesifik nama pimpinan parlemen. Dugaan mengarah ke Setya Novanto.

NURNI SARAFINA | STAR TRIBUNE

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments