hero
Senjata pelontar granat milik Polri (ANTARA/Wahyu Putro A)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

1 Oktober 2017, 14:10 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, tengah melakukan koordinasi internal terkait impor senjata untuk Korps Brimob Polri. Wiranto mengakui ada persoalan dalam impor senjata itu.

"Ada banyak masalah yang perlu kita selesaikan dengan musyawarah dan koordinasi. Tugas saya sebagai Menkopolhukam atas perintah Presiden mengkoordinasikan semua lembaga di bawah saya untuk sama-sama kami selesaikan," kata Wiranto di Museum Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu, 1 Oktober 2017.

Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. (ANTARA/Rosa Panggabean)

Mengaku tengah melakukan koordinasi, Wiranto tidak mengungkap rinci persoalan yang dimaksud. Menurutnya, tidak semua persoalan dapat diungkap ke publik. Ia meminta agar diberikan kesempatan menyelesaikan persoalan ini bersama Panglima TNI, Kapolri, BIN, Pindad dan siapapun yang terlibat pengadaan senjata.

"Ini domain kami. Jangan diributkan di luar (karena) masing-masing kemudian mengambil satu spekulasi," kata Wiranto.

“Oleh karena itu, stop dulu itu, stop dulu ya. Kami akan berkoordinasi internal dan akan selesai pasti, (hasilnya) akan sampaikan pada publik. Saya akan sampaikan, pasti,” sambung dia.

Senjata di Bandara Soetta yang dipersoalkan. (ISTIMEWA)

Senjata pesanan Polri itu saat ini berada di Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Informasi yang dihimpun NET, kargo berisi senjata itu tiba pada Jumat, 29 September 2017 sekitar pukul 23.30 WIB. Senjata dibawa pesawat maskapai Ukraine Air Alliance.

Kargo mulai diturunkan dari pesawat pada pukul 23.45. Aktivitas bongkar muat itu berlangsung hingga Sabtu, 20 September 2017, pukul 01.25 WIB. Barang kemudian dibawa ke Kargo Unex.

Barang impor itu berisi 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm. Senjata dikemas dalam 28 kotak. Masing-masing kotak berisi 10 pucuk.

Selain senjata, terdapat juga amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm. Amunisi dikemas dalam 70 boks yang masing-masing box berisi 84 butir, ditambah 1 boks berisi 52 butir. Total mencapai 5.932 butir.

Cargo Unex Bandara Soekarno Hatta. (NET/Dimas Arif Setiawan)

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Setyo Wasisto membenarkan adanya impor ratusan senjata untuk Korps Brimob Polri. Pengadaannya pun sudah melalui proses anggaran yang sah. 

"Saya nyatakan bahwa barang di Soetta, senjata itu adalah betul milik Polri dan adalah barang yang sah," kata Setyo di kantornya, Sabtu, 30 September 2017 malam.

Menurut Setyo, pengadaan senjata yang diimpor PT Mustika Duta Mas itu sudah sesuai prosedur. Pengadaan senjata sudah melewati perencanaan, proses lelang hingga di-review staf Irwasum Polri dan BPKP. "Sampai pengadaan dan pembeliannya pihak ketiga dan proses masuk ke Indonesia dan masuk ke pabean Soekarno-Hatta," sambung dia.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto (kanan). (ANTARA/Wahyu Putro A)

Pengadaan, lanjut Setyo, juga sudah diketahui Komandan Korps Brimob dan BAIS TNI. Menurut Setyo, senjata yang saat ini berada di Soetta masih butuh pengecekan.

"Prosedurnya memang demikian, barang masuk dulu ke Indonesia untuk dikarantina dan dicek oleh BAIS TNI. Lalu dikeluarkan rekomendasi TNI," jelas Setyo.

Apabila dalam pengecekan tak sesuai, senjata yang diimpor akan dikembalikan. Namun, lanjut Setyo, hal tersebut tidak pernah terjadi lantaran Polri sudah pernah mengimpor senjata SAGL ke Indonesia pada 2015 dan 2016 lalu.

KaKorps Brimob Polri Irjen Pol Murad Ismail menunjukkan jenis senjata pelontar granat di Mabes Polri, Sabtu lalu. (ANTARA/Wahyu Putro A)

Di tempat yang sama, Kepala Korps Brimob Irjen Pol Murad Ismail mengatakan, senjata impor tersebut diperuntukkan untuk penanganan huru-hara. Peluru yang digunakan pun berupa gas air mata dan peluru asap.

Senjata jenis ini, kata Murad, sudah pernah digunakan di Poso dan Papua. Senjata tidak untuk membunuh, tapi untuk melumpuhkan.

"Saya tekankan senjata ini bukan untuk membunuh tapi untuk kejut. Kalau bicara modelnya saja seram, sebenarnya ini laras sedikit, paling jauh larinya cuma 100 meter. Jadi tidak akan dianggap anti bahaya atau antitank," kata Murad.

CINDY MELODY | DIMAS ARIF SETIAWAN | SYARIFAH RAHMA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments