hero
(PPFN)

EDITOR : REZA ADITYA

22 September 2017, 10:00 WIB

INDONESIA

Sejarawan JJ Rizal menanggapi rencana memproduksi ulang film G30S PKI yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo. Menurut Rizal, ada banyak syarat yang menjadi pekerjaan rumah jika film itu ingin dibuat versi barunya.

"Problemnya adalah bagaimana bisa menciptakan film yang bisa membawa gambaran sejarah," kata Rizal, Kamis, 21 September 2017. "Dengan memasukkan bahan dari hasil riset yang sudah sangat kaya tentang peristiwa itu."

Sejarawan JJ Rizal. (ANTARA)



BACA JUGA:
Anak Ketua PKI Dukung Versi Baru Film G30S
Panglima TNI Setuju Film G30S/PKI Diproduksi Ulang

Dengan demikian, kata Rizal, film tentang kekejaman Partai Komunis Indonesia itu akan menjadi lebih banyak unsur history ketimbang story. "Pak Jokowi ingin film ityu dicerna kaum milenial."

Menurut Rizal, produksi ulang film itu juga harus melibatkan banyak pihak. "Tak hanya sejarawan, tapi juga kelompok psikolog, sosiolog, dan pemerhati kebudayaan kontemporer," ujar pendiri Komunitas Bambu itu.

Cuplikan film Pengkhianatan G30 S PKI tahun 1984. (YOUTUBE)

 

Tujuannya, kata Rizal, agar pesan yang ingin disampaikan pada film itu sampai. "Dan Presiden harus membuat pesan utama dari film itu. Bagaimana mengkreasikan semuanya. Menurut saya itu pekerjaan yang besar."

Film Penumpasan Pengkhianatan G30 S/PKI dirilis tahun 1984. Drama itu disutradarai Arifin Chairin Noer dan disponsori pemerintahan orde baru Presiden Soeharto.

Menurut Rizal, beberapa adegan  di film itu terdapat banyak yang tidak sesuai fakta sejarah. Salah satunya adalah adegan penyiksaan terhadap para jenderal Angkatan Darat.

Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo, Gorontalo, Rabu, 20 September 2017. (ANTARA)

 

"Di film itu ada bagaimana jenderal diangkat dari lubang buaya diiringi tarian erotis, terus ada gambaran mereka dianiaya tubuhnya," kata dia. "Empat hari setelah pengangkatan jenazah, Soeharto meminta autopsi dan tidak ada catatan penyiksaan."

Rizal juga menilai di film itu dapat menimbulkan dendam bagi para penontonnya. "Film itu membawa beban berat pembalasan. Jadi siapapun yang menonton akan menyimpan dendam kesumat."

DELVIANA AZARI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments