hero
PM Inggris Theresa May. (REUTERS_

EDITOR : REZA ADITYA

16 September 2017, 14:35 WIB

INGGRIS

Perdana Menteri Inggris Theresa May meningkatkan status negaranya dari siaga menjadi kritis. Peningkatan status itu sehubungan dengan ledakan yang terjadi di kereta bawah tanah di stasiun Parsons Green pada Jumat kemarin.

"Dengan peningkatan status keamanan, kami akan mengerahkan tentara menggantikan polisi untuk tugas penjagaan di beberapa tempat," kata May, seperti dilansir The Guardian, Sabtu, 16 September 2017.

Bom yang meledak di kereta di stasiun Parsons Green. (REUTERS/Sylvain Pennec)

 

May juga akan menempatkan tentara khusus di setiap transportasi publik dan jalanan. "Memberikan perlindungan ekstra. Ini adalah langkah proporsional dan masuk akal," ujar dia. 

Ketua Partai Konservatif Inggris itu tak mau lagi kecolongan adanya aksi teror di negaranya. Dia mengatakan aparat penegak hukum kini sedang menyidik dalang di balik ledakan di kereta bawah tanah itu.

Polisi dikerahkan pascainsiden bom di kereta di stasiun Parsons Green. (REUTERS/Hannah McKay​)

 

Sedikitnya 29 orang terluka akibat ledakan yang terjadi di salah satu gerbong kereta bawah tanah di stasiun Parsons Green pada Jumat pagi kemarin. Ledakan itu dikonfirmasi Kepolisian London berasal dari bom rakitan.

Keterangan polisi berdasarkan kesaksian penumpang, bom itu saat meledak menimbulkan kilatan cahaya dan suara yang besar. Masinis langsung menghentikan laju kereta yang akan bertolak dari stasiun Parsons.

Rangkaian kereta commuter di London yang diteror bom. (REUTERS/Hannah McKay​)

 

Penumpang berhamburan. Mereka panik dan berupaya menyelamatkan diri. Hasil penyelidikan sementara polisi, bom itu meledak tidak sempurna.Musababnya, hanya sebagian dari bom yang meledak. Sisanya, hanya menyala dengan percikan api.

Seorang petinggi Kepolisian London menyebut bom itu disertai pengatur waktu. Penggentar, kata petinggi itu, sengaja ingin meledakkan bom di jam-jam sibuk.

Petugas medis menyelamatkan korban bom di kereta di stasiun Parsons Green. (REUTERS/Yann Tessier​)

 

Sesaat insiden itu, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim dalang di balik aksi tersebut. Aparat penegak hukum Britania Raya hingga saat ini masih menggelar rapat terkait insiden mengerikan itu.

Sepanjang tahun ini, Inggris sudah empat kali dilanda aksi teror. Insiden pertama teradi di Jembatan Westminster, lalu yang kedua di Manchester Arena saat konser Ariana Grande. Ketiga, peristiwa London Bridge. Dan yang terakhir di stasiun Parsons.

THE GUARDIAN | REUTERS

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments