EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

29 Agustus 2017, 06:15 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Mufidah Kalla merayakan ulang tahun pernikahan ke-50 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu 27 Agustus 2017. Sebagai kado istimewa di perayaan pernikahan emas, Kalla membacakan puisi yang ditulisnya sendiri untuk sang istri. 

Mufidah mendampingi JK saat membacakan puisi di hadapan hadirin yang hadir, termasuk Presiden Joko Widodo, para pejabat dan tamu undangan lainnya.

Manis dan romantis, sajak JK untuk Mufidah. JK menceritakan awal perkenalannya dengan Mufidah dari bangku SMA. Ia mengisahkan perjuangannya merebut hati Ida dan keluarganya.

JK membacakan puisi untuk Mufidah Kalla. (NET/Fergyanto Mage)

Kisah cinta JK dan Mufidah tak selalu berjalan mulus. Tapi, JK tak menyerah. Dia yakin hal yang sulit biasanya berakhir manis. Itu terbukti ketika mereka akhirnya menikah.

"Kita duduk bersanding dengan penuh bahagia di aula hotel Negara, Makassar, yang pada waktu itu cukup terpandang. Sekarang sudah bubar itu hotel," cuplikan awal puisi JK yang langsung memancing tawa hadirin.

Selipan-selipan kalimat lucu JK itu beberapa kali mengundang tawa dan tepuk tangan tetamu. JK pun dengan bangga menunjukkan rasa cinta yang besar kepada sang istri. Di sela membacakan puisi, berulang kali JK memandang dan melempar senyum kepada Mufidah.

Syukuran 50 tahun pernikahan JK-Mufidah diselenggarakan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. (wapres.go.id)

Di pengujung puisinya, JK menyampaikan, "Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah memberi bunga sambil mengucapkan I love you."

Seperti apa puisi berjudul "Setengah Abad yang Indah" itu? Berikut puisi karya Kalla untuk istri tercinta:

Puisi yang dibacakan mengisahkan pertemuan pertama JK dengan Mufidah hingga sekarang. (NET/Fergyanto Mage)

Setengah Abad yang Indah

Di hari minggu yang sama setengah abad yang lalu, kita duduk bersanding dengan penuh bahagia. Di aula hotel Negara, Makassar, yang pada waktu itu cukup terpandang. Sekarang sudah bubar itu hotel.
Setelah paginya akad nikah di rumahmu, yang dipenuhi para keluarga. Itu hari terindah dalam hidupku.

Aku pertama kali melihatmu waktu kita di SMA. Kita bersebelahan kelas. Karena kau adik kelasku.
Aku terpesona dengan kesederhanaanmu. Walaupun kau sempat takut tak peduli padaku.
Aku menyukaimu pada detik pertama aku melihatmu.

Tujuh tahun lamanya aku berusaha untuk mendekati dan meyakinkanmu.
Tapi engkau seperti jinak-jinak merpati. Sama dengan nama jalan di depan rumahmu.

Antara mau dan tidak, sering membingungkan tidak jelas.
Aku bersabar berjuang dengan waktu.
Namanya pacaran tapi kurang asyik seperti teman teman saya yang lain.
Ke mana-mana kau dikawal oleh adik-adikmu kayak Paspampres saja.

Walaupun aku punya vespa tapi engkau enggak pernah mau dibonceng.
Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop. Itu pun dengan teman-temanmu.
Sehingga untuk bisa memegang tanganmu saja, sangat sulit.
Tapi kutahu hal yang sulit biasanya berakhir manis.

Akar budaya kita memang berbeda, Bugis dan Minang.
Orangtuamu terkadang was-was dan khawatir karena engkau anak perempuan satu-satunya. Adiknya laki-laki semua.

Orangtuaku begitu pula, sering salah mengerti adat Minang.
Kenapa paman dan perempuan lebih banyak menentukan.
Perbedaan yang nyaris menjauhkan kita.

Kalau ke rumahmu harus siap untuk sabar.
Mendengar petuah dari bapakmu dengan suara yang pelan, seperti guru menasehati muridnya.
Karena memang bapak dan ibumu juga guru.

Aku ingin menemuimu tapi bapakmu menyembunyikanmu.
Kamu baru dipanggil keluar kalau saya permisi pulang.
Sebenarnya itu termasuk perilaku yang kejam.

Karena itu aku mengubah cara.
Datang ke rumahmu sore hari sebelum magrib, begitu magrib aku berdiri dan azan dengan fasih.
Terpaksa kamu keluar salat berjamaah yang diimami oleh bapakmu.
Ini juga penting agar bapakmu tahu aku juga rajin salat.

Setelah tamat SMA, kau bekerja di BNI. Sambil kuliah sore di UI
Sambil kuliah aku juga bekerja di kantor bapakku, agar bisa sering terbang untuk menyetor dan menabung.
Sekali seminggu aku minta jadi asisten dosen dan mengajar di kelasmu tanpa honor.
Semua itu agar bisa bertemu denganmu, dan melihat senyummu.

Berat sekali perjuanganku, tapi demi menatapmu ku jalani semua.
Akhirnya kau dan bapakmu luluh juga.

Ayahku juga memahami tentang perbedaan adat kita, setelah ibuku dan sahabatnya memberi nasihat.
Mungkin juga setelah membaca buku Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk.

Saat orangtuaku melamarmu untuk jadi istriku, aku melihat cakrawala tersenyum. 
Perjuangan cinta bertahun-tahun yang berbuah manis.

Setelah kita menikah, aku menjalankan perusahaan ayahku.
Kau sekretaris merangkap keuangan, karena kita belum bisa mengangkat pegawai tambahan.
Di samping mengasuh anak juga mengurus rumah dengan baik.
Lima anak kita kau asuh sendiri, tanpa barisan suster seperti cucu kita sekarang.
Kau bagaikan wonder woman untukku.

Selama 50 tahun kau chef terbaik yang kukenal.
Karenanya jarang sekali kita makan di restoran.
Di kantor pun setiap hari kau kirim rantangan. Sampai sekarang.
Teman-teman selalu menunggu apa saja yang kau hidangkan.
Kau tahu cintamu terus mengitariku karena hidangan enak yang kau buat.

50 tahun kita jalani. 33 tahun di Makassar dan 17 tahun di Jakarta.
Sungguh suatu perjalanan yang panjang.
Kita jalani hidup tanpa mengubah cara.
Kita tidak pernah berubah.

Aku suka kesederhanaanmu sejak pertama aku melihatmu dan sekarang kesederhanaanmu adalah cahaya yang terindah.

Secara ekonomi gaji pejabat negara tidak besar. Termasuk Bapak Jokowi juga tidak besar.
Lebih besar hasil usahamu yang bermacam-macam.
Dari menanam bunga sampai tambak udang yang kau urus dari meja riasmu sambil menelepon.

Mungkin perpaduan semangat Minang dan Bugis yang kau alami.
Kau perempuan hebat istriku.
Dalam aura sederhanamu tersimpan energi yang dahsyat.

Orang Bugis tak fasih berkata-kata indah.
Kecintaannya ditunjukkan dari perilaku, bahasa tubuh, dan senyumnya.
Untuk romantis pun aku tak pandai mengucapkan dengan kata-kata.

Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tidak pernah memberi bunga sambil mengucapkan i love you.

KATHERIN AUGUSTINA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments