hero
Protes menentang Presiden Jimmy Morales. (REUTERS)

EDITOR : TITO SIANIPAR

29 Agustus 2017, 00:05 WIB

GUATEMALA

Presiden Guatemala Jimmy Morales mengusir Kepala Komisi Antiimpunitas Perserikatan Bangsa-bangsa (CICIG) Ivan Velasquez dari negaranya. Pasalnya Komisi tersebut menyelidiki dugaan korupsi dalam dana kampanye Morales saat pemilihan tahun lalu.

Morales mengumumkan pengusiran itu untuk kedua kalinya, meski Mahkamah Agung telah membatalkan keputusannya itu. "Keputusan untuk mengusir Velasquez adalah kebijakan eksekutif, bukan pengadilan," kata Morales dikutip dari Reuters, akhir pekan lalu.

Velasquez sendiri adalah seorang jaksa veteran yang sebelumnya menyelidiki kartel obat bius oleh kelompok paramiliter di negara asalnya, Kolombia. Dia kini sedang menyelidiki dugaan pendanaan ilegal sebesar US$ 800 ribu yang masuk selama kampanye pemilihan Morales. 

Presiden Guatemala Jimmy Morales. (REUTERS)

Sebanyak 15 mantan anggota Kongres juga telah ditangkap berkat laporan CICIG karena kasus korupsi. Sebelumnya pada 2015, CICIG juga mengungkap korupsi jutaan dollar yang dilakukan oleh mantan presiden Guatemala Otto Perez Molina.

Langkah Morales mengusir itu memantik ratusan orang berunjuk rasa di ibu kota. Sejumlah pejabat, yakni Menteri luar negeri Guatemala, wakil menteri luar negeri, menteri kesehatan dan tiga wakil menteri kesehatan, mengundurkan diri sebagai bentuk protes. 

Aksi pendukung Presiden Jimmy Morales. (REUTERS)

"Langkah yang Anda ambil mendukung kekebalan hukum terhadap korupsi. Ini bertentangan dengan pernyataan Anda tentang transparansi," tulis surat pengunduran diri Menteri Kesehatan Lucrecia Hernandez untuk Jimmy.

PBB beserta sembilan negara Barat dan Uni Eropa mengutuk pengusiran Velasquez. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku terkejut dengan langkah Morales. "Kami meminta pihak berwenang Guatemala untuk memperlakukan Velasquez dengan hormat," kata Antonio.

Kepala CICIG Ivan Velasquez. (YOUTUBE)

Eric L. Olson, pakar Guatemala di Wilson Center Washington menulis institusi demokrasi Guatemala yang rapuh dikhawatirkan tidak bisa menghentikan keputusan Morales. "Ini adalah krisis konstitusional yang paling berat bagi Guatemala," kata Eric. 

REUTERS | NEW YORK TIMES

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments