hero
Novel Baswedan diwawancarai wartawan NET Mayfree Syari. (NET/Yusuf Pamuncak)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

15 Agustus 2017, 20:30 WIB

SINGAPURA

Sudah empat bulan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan berada di Singapura. Sejak disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April silam, Novel harus menjalani perawatan intensif untuk kesehatan matanya.

Hingga kini, polisi belum mampu mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel. Polisi telah memeriksa 4 orang sebagai terduga, namun dibebaskan karena memiliki alibi kuat. Belakangan Kapolri Jenderal Tito Karnavian merilis sketsa wajah yang diduga pelaku penyerangan.

Novel Baswedan. (NET/Yusuf Pamuncak)

Setelah kontroversi berkepanjangan, Novel akhirnya diperiksa tim Polda Metro Jaya di KBRI Singapura, Senin kemarin. Novel diperiksa mulai pukul 11.00 hingga 17.00 waktu setempat.

Wartawan NET Mayfree Syari dan Yusuf Pamuncak menemui Novel di Singapura sejak kemarin. Sehari pasca-pemeriksaan keduanya mendapat kesempatan mewawancari Novel.

Berikut petikan wawancara NET dengan Novel Baswedan.

Apa saja yang digali polisi saat pemeriksaan kemarin Bang Novel?
Saya kira normal saja. Saya menerangkan soal peristiwa penyerangan dan hal-lain yang perlu saya sampaikan berhubungan dengan hal itu.

Novel Baswedan (tengah) usai salat di masjid KBRI Singapura, Senin kemarin. (NET/Mayfree Syari)

Kemarin Bang Novel didampingi tim advokasi. Lewat tim, Bang Novel menyampaikan beberapa kekecewaan. Apa saja?
Betul, memang ada beberapa kekecewaan terkait penyidikan perkara ini. Saya kecewa ketika saksi dipublikasikan, karena itu suatu hal yang sangat buruk. Itu tidak boleh terjadi, sebab bisa menjadi hal yang kontraproduktif dari penyidikan itu sendiri. Penyidikan mengharapkan saksi bicara apa adanya, tapi di lain pihak saksi dibicarakan di publik

Kedua, penyidik terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan dan itu berbahaya. Sebab, setelah mengambil kesimpulan, bisa saja penyidik kemudian bersikukuh dengan kesimpulannya. Itu justru tidak baik dalam mengungkap suatu perkara dengan objektif.

Rekaman orang mencurigakan dari CCTV rumah Novel. (ISTIMEWA)

Apa langkah polisi yang tidak tepat?
Anda tahu ada orang yang memata-matai rumah saya. Dengan cepatnya itu disebut Mata Elang. Saya hampir bisa memastikan bahwa itu bukan Mata Elang. Kalau tiba-tiba disebut dan dengan sedemikian banyak justifikasi bahwa itu bukan Mata Elang, maka menjadi tidak baik. Karena penyidik akan dengan mudahnya nanti mempertahankan pendapat pertamanya bahwa itu Mata Elang.

Bang Novel juga mendesak agar dibentuk tim gabungan pencari fakta. Apa urgensi pembentukan TGPF dalam proses penyidikan ini?
Kemarin saya juga ditanya penyidik dan saya menjawab bahwa terkait dengan siapa jenderal yang terlibat, siapa aktor intelektual di balik ini, saya bilang saya berharap penyidik betul-betul fokus untuk mengungkap pelaku lapangan yang sampai sekarang tidak diungkap.

Ketua KPK Agus Rahardjo (tengah) dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kanan) menemani Novel di KBRI Singapura, Senin kemarin. (ISTIMEWA)

Saya akan menyampaikan bukti-bukti yang pernah saya sampaikan ke media hanya kepada tim gabungan pencari fakta. Karena beberapa kejadian yang saya lihat ketika bukti itu saya sampaikan kepada penyidik, yang ada malah diambil kesimpulan dengan cepat dan itu tidak baik dalam proses hukum.

Ditambah lagi faktor subjektivitas apabila itu berhubungan dengan atasannya, berhubungan dengan koleganya itu tentunya sangat besar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan Novel, 31 Juli lalu. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Bang Novel dulu juga berkarir sebagai penyidik kepolisian. Mengapa Bang Novel merasa perlu dibentuk TGPF, apakah mempertanyakan independensi kepolisian?
Fokus saya begini. Teror atas aparatur yang sedang melakukan tugas pemberantasan korupsi dilakukan berkali-kali dan kepada beberapa orang. Itu bukan suatu hal yang sepele. Ketika itu terjadi patut diduga ini berhubungan dengan kekuatan cukup besar. Beberapa peristiwa apabila berhubungan dengan kekuatan cukup besar tidak cukup bisa diungkap dengan perangkat yang ada. Oleh karena itu ketika kita menganggap bahwa korupsi itu hal yang penting untuk diberantas harusnya aparaturnyai dilindungi.

BACA JUGA:
Kata Novel Setelah Diperiksa di Singapura
Ini Materi Pemeriksaan Novel di Singapura
Tim Advokasi: Novel Kooperatif Diperiksa Walau Banyak Kejanggalan

MAYFREE SYARI | YUSUF PAMUNCAK‚Äč

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments