hero
Keindahan alam di Islandia. (PIXABAY)

EDITOR : TITO SIANIPAR

14 Agustus 2017, 08:10 WIB

EROPA

Media sosial terutama Instagram punya andil besar menaikkan popularitas tempat wisata. Dampak gelombang wisatawan yang datang bisa seperti mata pisau: meningkatkan ekonomi masyarakat lokal, sekaligus bisa merusak lingkungan.

"Instagram bisa membawa ke tempat-tempat baru, tapi menciptakan masalah bagi negara atau kota yang tak siap dengan arus masuk wisatawan," tulis laman Time, Kamis, 10 Agustus 2017.

Bussiness Insider mencatat sedikitnya 7 negara yang tempat wisatanya populer berkat Instagram. Yakni Islandia, Kuba, Selandia Baru, Tulum di Meksiko, Macchu Pichu di Peru, Santorini di Yunani, Pig Beach di Bahamas. Di tengah popularitas negara-negara itu, sejumlah problem sosial dan lingkungan sedang menghadang. 

Macchu Pichu di Peru. (INSTAGRAM/obymisterdrums)

Jumlah wisatawan ke Islandia meningkat dua kali lipat, dari 566 ribu orang di tahun 2011 menjadi 1 juta pada 2015. Namun lonjakan wisatawan ini dikeluhkan penduduk setempat karena ekosistem hancur, situs sejarah rusak, dan melangitnya harga-harga kebutuhan pokok.

Aurora di Islandia. (PIXABAY)

Kondisi di Kuba lebih tragis. Kenaikan jumlah wisatawan hingga 13 persen menyebabkan penduduk setempat kekurangan pangan dan harga pangan pokok tidak terjangkau. Sebabnya karena hotel dan restoran lokal membeli stok pangan berlebihan untuk turis dan menyisakan sedikit bagi penduduk setempat.

Suasana Havana, Kuba. (INSTAGRAM/feelingforeign)

Di Selandia Baru, wisatawan yang memburu panorama seperti dalam film "The Lord of The Ring" dan "The Hobbit" harus ditebus oleh rusaknya lingkungan. Hal itu karena wisatawan sering meninggalkan sampah dan berkemah sembarangan. 

Data menunjukkan, dalam enam tahun, pemakai Instagram melonjak lebih dari 500 juta. Pengguna membagikan rata-rata 80 juta foto dalam sehari. Warganet pun 10 kali lebih aktif di Instagram ketimbang media sosial lain seperti Facebook.

Selandia Baru di belahan selatan bumi. (INSTAGRAM/wanderlustofnz)

Itu membuat para agen wisata dan pemerintah lokal mengubah cara berpromosi. Dari sebelumnya menggunakan brosur wisata, kini beralih ke Instagram. Beberapa dari mereka bahkan menyewa seorang fotografer atau tokoh yang memiliki banyak pengikut untuk mengunggah foto tempat wisata tertentu di Instagram.

"Saya pernah bertemu orang-orang yang berwisata karena foto-foto saya. Hal ini tidak mungkin terjadi 10 tahun lalu," kata Chris Burkard, fotografer yang memiliki lebih dari 2 juta pengikut.

Santorini, Yunani. (INSTAGRAM/vacations)

Namun Burkard juga mengakui Instagram memiliki sisi yang gelap. Hasrat seseorang untuk eksis dan berswafoto, menurut dia, menyebabkan kerusakan lingkungan hingga aksi berbahaya yang membuat nyawa melayang.

TIME | NATIONAL GEOGRAPHIC

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments