hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

13 Agustus 2017, 14:35 WIB

ACEH, INDONESIA

Di tengah guyuran hujan dan medan yang berlumpur, tim dari Orang Utan Information Center (OIC) dan BKSDA Aceh berhasil menyelamatkan satu orangutan di Dusun Reformasi, Desa Paya Ketapang, Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur, Jumat malam, 4 Agustus 2017.

Orangutan bernama Milky itu sudah dua tahun dirampas hak hidupnya. Ia dirantai pada sebuah batang pohon, tanpa alas dan atap. Selama dua tahun itu pula ia kepanasan, kedinginan dan kehujanan.

Selama penyekapan, orangutan berusia kurang lebih 6 tahun itu dirawat dan diberi makan seadanya. Ia nampak lemah, pucat, dan kurus, kondisi yang disebabkan oleh kurang gizi, dehidrasi, dan cacingan.

Medan berat menuju lokasi penyelamatan orangutan. (NET/ Ibey)

Tidak mudah menyelamatkan Milky, tim harus berjalan 7 jam untuk mencapai lokasi, dimana, 4 jam di antaranya ditempuh dengan berjalan kaki melewati medan berlumpur ditengah hujan deras dan tanpa penerangan.

Proses negosiasi dengan sang penyekap berlangsung alot. Nur Salim namanya, ia meminta sejumlah uang sebagai ganti rugi biaya perawatan Milky selama dua tahun. Petugas dengan tegas menolak perminta tersebut dan langsung merampas Milky.

Nur Salim mendapatkan Milky beberapa tahun lalu, dengan cara merebutnya dari sang induk. Ia mengaku tidak tahu jika perbuatannya melanggar hukum.

Tim OIC menyelamatkan Milky. (NET/ Ibey)

"Saya tidak tahu kalau melihara orangutan tidak diperbolehkan dan dilarang," kata Nur Salim kepada NET.

Milky kemudian dibawa ke markas Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) di Sibolangit, Deli Serdang untuk dikarantina. Ia akan menjalani rehabilitasi, diajarkan kembali cara mencari makan dan bertahan hidup sebelum dibebasliarkan kembali ke habitat aslinya.
 
OIC mengatakan populasi orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser terus terdesak. Hutan tropis yang menjadi habitat mereka terus beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Masyarakat yang kebunnya diganggu, tak segan membunuh orangutan dengan cara menembak dan meracunnya. Sebagian lagi menangkapnya hidup-hidup untuk dipelihara, dijual atau bahkan dimakan.

Direktur Yayasan Orangutan Sumatra Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC), Panut Hadisiswoyo mengatakan, sudah beberapa kali menangkap pemelihara dan pembunuh orangutan. Ia mengeluhkan longgarnya hukuman bagi para pelaku.

"Cukup disayangkan, hingga saat ini tak satupun pelaku pembunuhan atau pemelihara ditindak berdasarkan hukum. Sehingga tidak ada efek jera bagi mereka," kata Panut.

Sejak 2001, ada 270 orangutan Suamatra dilepas ke alam. 180 dirilis di hutan Jambi. 80 di hutan Jantho Aceh Besar. Sejak akhir tahun lalu, terdapat 50 orangutan Sumatra di karantina di Sibolangit, 7 orangutan dalam kondisi sakit sementara sisanya siap dilepasliarkan.

Milky dikarantina di SOCP Sibolangit. (NET/ Ibey)

NET/ IRWANSYAH PUTRA NASUTION

 

 

 

 

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments