hero
Produksi batu bata. (ANTARA/Aji Styawan)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

4 Agustus 2017, 05:00 WIB

KAB. KARANGANYAR, INDONESIA

'Panas nian kemarau ini, rumput-rumput pun merintih sedih. Resah tak berdaya di terik sang surya.'

Begitulah Oetje F Tekol menggambarkan musim kemarau dalam sebuah lagu. Irama dan nada yang dituangkan dalam lagu berjudul 'Kemarau' itu kemudian dipopulerkan grup bandnya, The Rollies.

Bagi Oetje, pencipta lagu sekaligus pembetot bass The Rollies itu, musim kemarau adalah waktu di mana bumi begitu kering dan gersang. 'Curah hujan yang dinanti-nanti, tiada juga datang menitik,' demikian nukilan lirik lagu yang dirilis dalam album dengan judul yang sama pada tahun 1979 tersebut.

Kolam wisata di Aceh Besar kering akibat musim kemarau berkepanjangan. (ANTARA/Ampelsa)

Berselang 38 tahun dari lagu itu lahir, kemarau tidak melulu menggambarkan kegetiran seperti yang dinyanyikan The Rollies. Bagi perajin batu bata di Karanganyar, Jawa Tengah, kemarau justru menjadi berkah tersendiri.

Salah seorang pengrajin, Saliman mengatakan, tingginya intensitas matahari dua bulan belakangan membuat produksi batu bata merah meningkat. Proses pengeringan yang cepat membuahkan peningkatan kapasitas produksi bata. 

"Waktu musim hujan nggak bisa cetak secara cepat. Kalau musim kemarau bisa cepat gitu, soalnya kena panas," kata Saliman saat ditemui NET di tempat produksi di rumahnya, Desa Lalung, Karanganyar, Kamis, 3 Agustus 2017.

Saliman menjemur bata di Desa Lalung, Karanganyar. (NET/Angga Eka)

Saliman menjelaskan di luar musim kemarau waktu satu pekan dihabiskan hanya untuk proses pengeringan. Masa-masa suram itu kini berlalu.

Kemarau dimanfaatkan betul untuk menggenjot produksi. Saat ini dalam sepekan, para pengrajin mampu melalui proses pembuatan dari awal hingga jadi bata siap jual dengan cepat. Tahap pencetakan, penjemuran dan pembakaran bisa rampung dalam 7 hari.

Kondisi itu membuat kuantitas produksi pengrajin bertambah. Mereka menghasilkan bata merah dari 400 hingga 700 buah setiap harinya. Imbasnya? Peningkatan omzet. Untuk 1.000 bata, pengrajin menjual seharga Rp 600 ribu hingga 700 ribu. 

Penjemuran batu bata. (NET/Angga Eka)

Meski musim kemarau membuat hasil produksi meningkat, bukan berarti proses produksi mulus-mulus saja. Ada tantangan yang dihadapi pengrajin, yaitu angin. Hembusan angin membuat bata yang sedang dijemur mudah pecah.

Menurut Saliman, angin di musim kemarau berhembus cukup kencang. Saliman punya solusi mengatasi hal itu. "Angin kencang seperti ini, cetaknya malem biar nggak gampang pecah," ujar dia.

Di Kabupaten Karangayar, produksi bata sebagian besar dilakoni petani. Lazim terjadi jika kemarau datang, hampir seluruh petani beralih menjadi perajin batu bata. Laman Pemkab Karanganyar menyebut salah satu sentra produksi bata berada di Dusun Kepuh, Desa Lalung.

ANGGA EKA

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments