hero
Sumber: Pixabay

EDITOR : AULIA RAHMAT

21 Juli 2017, 09:30 WIB

INGGRIS

Penelitian terbaru dari Ditch the Label, lembaga anti-bullying asal Inggris mengatakan: media sosial membuat anak muda merasa lebih cemas. Mereka meneliti pengaruh foto yang diunggah ke Instagram terhadap kondisi batin para responden.

40 persen mengaku sedih jika foto yang mereka unggah tidak memperoleh 'like'. Sementara, 35 persen mengaku lebih percaya diri jika memperoleh banyak 'like'.

Baca Juga: Instagram Bikin Aplikasi Pemblokir Komentar-komentar Kasar‚Äč

Pengguna Instagram rentan mengalami bullying. (PIXABAY)

7 persen responden mengaku pernah dibully di Instagram. Dibanding platform media sosial lain, angka bullying di Instagram adalah yang paling tinggi. Angka bullying di Facebook mencapai 6 persen, Snapchat 5 persen, Twitter dan YouTube masing-masing 2 persen.

Menghadapi kenyataan ini Instagram tidak diam. Mereka mendorong korban bullying melaporkan perbuatan yang dialaminya. 

"Kami mengetahui bahwa komentar-komentar itu (bullying) bisa memberikan dampak yang besar. Kami telah berinvestasi pada teknologi untuk membuat Instagram lebih ramah dan aman," kata Michelle Napchan, Kepala Kebijakan Publik Instagram.

Instagram memiliki teknologi yang bisa memblokir komentar-komentar negatif secara otomatis. Mereka juga memberikan pilihan kepada pengguna, untuk mematikan kolom komentar atau memblokir kata-kata dan emoji-emoji tertentu. 

Pengguna Instagram rentan mengalami bullying. (PIXABAY)

Penelitian ini dilakukan terhadap 10 ribu anak muda berusia 12 hingga 20 tahun. Mereka mengakui jika bullying atau perundungan telah menyebar luas seantero jagad.

70 persen responden mengaku pernah melakukan 'kekerasan' secara online. 17 persen mengaku pernah dibully.

Satu dari tiga anak mengaku khawatir dibully di media sosial. Akibatnya, 47 persen dari mereka enggan mengumbar kehidupan pribadi di medsos. Semua yang mereka unggah telah melalui tahap penyaringan oleh diri sendiri.

"Tren yang terjadi saat ini adalah, anak-anak mengunggah sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya," kata Liam Hacket, peneliti Ditch the Label.

Hacket menambahkan, perundungan di dunia maya adalah salah satu masalah terbesar yang sedang dihadapi manusia. 

BBC | DITCH THE LABEL

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments