hero
Ilustrasi Telegram. (NEWSWEEK)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

16 Juli 2017, 12:45 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir aplikasi Telegram karena dianggap memuat banyak konten soal radikalisme. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Telegram menjadi pilihan saluran komunikasi yang digunakan pelaku bom bunuh diri.

Menurut Tito, Telegram selama ini sulit dipantau. Banyak teroris yang ditangkap juga mengakui bahwa mereka menggunakan Telegram untuk berkomunikas. Bahkan, rentetan aksi terorisme di Jakarta dan Bandung juga direncanakan lewat Telegram. 

"Kasus yang terjadi selama ini, seperti bom Thamrin, bom Kampung Melayu, terakhir di Falatehan, bom di Bandung, ternyata menggunakan telegram," kata Tito di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu, 16 Juli 2017.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (NET/Jeni Santika)

Tito menuturkan, telah berkoordinasi dengan Kemenkominfo guna mengatasi pemakaian Telegram untuk kepentingan terorisme. Tito menilai, pemblokiran Telegram merupakan salah satu solusi untuk mengatasi komunikasi kelompok teroris.

Menurut Tito, Telegram masif digunakan kelompok teroris karena memiliki sejumlah keunggulan. Anggota chat grup di Telegram bisa mencapai 10 ribu orang. Grup di aplikasi tersebut juga dienkripsi dan sulit dideteksi. Telegram juga menjamin privasi penggunanya sehingga sulit disadap.

"Ini jadi problem dan jadi tempat saluran komunikasi paling favorit oleh kelompok teroris," ujar Tito.

Ilustrasi teroris yang menggunakan Telegram. (REUTERS)

Tito mengatakan, pihaknya akan terus menelusuri jaringan komunikasi para teroris. Ia juga akan mengkaji dampak penutupan aplikasi ini pada masyarakat. "Nanti kita lihat apakah mereka akan menggunakan saluran komunikasi lain. Kita juga ingin melihat dampak dari pemblokiran ini. Saya kira akan terus dievaluasi," ujar Tito.

Sebelumnya Kemenkominfo memblokir Telegram. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel A. Pangerapan mengatakan, alasan pemblokiran karena banyak ditemukan kanal yang bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, hingga ajakan atau cara merakit bom.

Ilustrasi pemblokiran Telegram. (VOX)

Menurut Semuel kanal-kanal dalam domain tersebut berbahaya. "Paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images yang bertentangan dengan undang-undang," kata Semuel, Sabtu kemarin.

Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO layanan pesan Instan Telegram, angkat suara mengenai pemblokiran itu. Lewat akun Twitter, Durov mengatakan pihaknya tidak pernah menerima permintaan atau komplain dari pemerintah Indonesia. Durov akan melakukan investigasi dan membuat pengumuman terkait hal ini.

Selain Indonesia, Telegram sudah ditutup di beberapa negara lainnya seperti Rusia, Cina, Iran, Arab Saudi dan Bahrain.

JANUAR YUDHA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments