EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

13 Juli 2017, 06:05 WIB

KABUPATEN CIAMIS, INDONESIA

Setiap tanggal 2 Mei, masyarakat selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional. Ditanggal tersebut, selalu hadir rangkaian cerita sendu tentang dunia pendidikan di Indonesia.

Muai dari perjuangan anak-anak menembus medan sulit demi bersekolah, hingga kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan. Namun di balik semua kisah tersebut, selalu ada secercah harapan selama ada sosok perempuan seperti Heni Sri Sundani.

Heni Sri Sundani sedang mengajar. (NET/Satu Indonesia)

Lahir dan dibesarkan di tengah kondisi keluarga serba kekurangan, tak membuat wanita asal Ciamis, Jawa Barat ini patah arang. Berkat kegemarannya membaca buku, Heni pun mulai berjuang meraih mimpinya sebagai seorang guru.

“Saya mendapatkan satu gambaran tentang sebuah dunia yang jauh lebih baik dibandingkan kampung saya melalui buku. Karena pengalaman masa kecil saya yang sulit membuat diri saya memiliki dendam positif. Saya saat udah besar harus bisa menjadi seorang guru. Guru yang tidak boleh menyia-nyiakan semangat dan menakuti anak didiknya,” ujar Heni saat ditemui oleh Tim Satu Indonesia, pada 13 Mei 2017 lalu.

Jalan berlikupun harus dihadapinya untuk memenuhi biaya pendidikannya. Bahkan ia terpaksa harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong selama 6 tahun demi membantu sang nenek dan membiayai kuliahnya.

“Anak-anak seperti kami, tidak hanya miskin akan materi. Tapi juga miskin akan informasi. Sehingga saya memilih TKI sebagai  jalan keluarnya. Agar saya bisa mendapatkan wawasan lebih luas sekaligus penghasilan untuk nenek,” tambahnya.

Suasana tempat Gerakan Anak Petani Cerdas. (NET/Satu Indonesia)

Meski harus jauh dari keluarga dan sendirian di negeri orang, nampaknya kerja keras Heni saat merantau membuahkan hasil. Dengan seluruh upayanya, ia berhasil meraih gelar sarjana di Saint Mary University dengan predikat cumlaude. Tak ingin merasa tinggi hati, Heni pun memutuskan untuk kembali dan mengabdi kepada tanah air.

Ia bertekad untuk mengajar anak-anak petani miskin lewat Gerakan Anak Petani Cerdas yang ia gagas. Berangkat dari pengalaman masa kecilnya, ia tergugah untuk mengentaskan kemiskinan di kampung melalui pendidikan.

“Ini tujuannya untuk mengedukasi anak-anak dan menunjukan bahwa orang-orang yang memiliki bekal pendidikan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik,” papar Heni.

Setiap harinya Heni dan sang suami bergerilya ke sejumlah desa demi mengajar anak-anak petani miskin. Berawal dari dua kampung, kini gerakan anak petani cerdas sudah tersebar di lebih dari 40 desa dengan melibatkan 1500 anak didik dari beberapa wilayah di Indonesia.

Suasana tempat Gerakan Anak Petani Cerdas. (NET/Satu Indonesia)

Gerakan Anak Petani Cerdas sarat materi pembentukan karakter. program pendidikan yang dibuat pun terbilang unik. Sebut saja program bercocok tanam, jelajah kota, bule hunting dan cooking class yang dibuat secara berkala untuk melatih softskill anak-anak.

Konsistensi Heni dalam mendidik dan memberdayakan masyarakat dibanjiri apresiasi dari dalam maupun luar negeri. Bahkan pada akhir tahun 2016, Heni masuk jajaran 30 anak muda di bawah usia 30 tahun yang berpengaruh di Asia dalam kategori social entrepreneur versi majalah Forbes.

Tak hanya sekedar membangun pendidikan bagi anak-anak, Heni pun semaksimal mungkin melibatkan masyarakat sekitar terutama keluarga. Karena menurutnya ketika ingin membangun generasi muda tak hanya cukup dengan mengedukasi sang anak saja.

Kiprah Heni dimuat oleh salah satu media masa. (Dok: Heni Sri Sundani)

"Ketika kita berbicara ingin membangun sebuah negara jadi lebih baik, entah itu dalam hal pendidikan atau hal lainnya kita harus berbicara pada keluarga. Karena itu merupakan pondasi bangsa yang paling fundamental." tutupnya.

Semangat dan kegiatan dari Heni ini patut menjadi teladan. Agar semakin banyak Heni-Heni lainnya yang menebar kebaikan demi pendidikan generasi penerus bangsa. 

SATU INDONESIA

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments