hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

10 Juli 2017, 13:45 WIB

KALIMANTAN TENGAH, INDONESIA

Peneliti dari The University of Queensland, Australia membeberkan data tentang berkurangnya populasi orang utan di Pulau Kalimantan sebanyak 25 persen dalam satu dekade terakhir. 

Mereka mendorong pemangku kepentingan, Pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darusalam, mengubah strategi perlindungan terhadap primata terbesar kedua di dunia itu. 

Tim peneliti memantau kawanan orang utan dari darat dan udara menggunakan helikopter. Mereka juga mewawancarai warga lokal dan melakukan teknik sampling untuk mengetahui perubahan populasi selama sepuluh tahun belakangan.

Populasi orang utan menurun sebesar 25 persen dlam satu dekade belakangan. (NET/ TOPAN)

Penelitian sebelumnya hanya mengandalkan pemantauan langsung di sarang-sarang orang utan. Riset itu mengatakan terjadi peningkatan populasi orang utan.

Temuan baru ini membuka mata semua pemangku kepentingan. Pemerintah dari ketiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei) dan komunitas konservasi untuk berpikir ulang menyelematkan orang utan dari ancaman kepunahan.

Penelitian yang dipublikasi pada Jurnal Scientific Report mengatakan, setiap tahun pemangku kepentingan di pulau Kalimantan mengucurkan dana Rp 400 miliar hingga Rp 530 miliar untuk menghentikan penurunan populasi satwa liar. 

Populasi orang utan menurun sebesar 25 persen dlam satu dekade belakangan. (NET/ TOPAN)

Tim mengatakan, dana tersebut tidak efektif dan tidak tepat sasaran. 

Ancaman terbesar orang utan adalah hilangnya habitat, perubahan iklim, dan tingkah polah manusia. Demi perambahan lahan, manusia membunuh orang utan. Beberapa bahkan membunuhnya untuk dimakan.

Kesimpulannya, 2500 ekor orang utan dibunuh seteiap tahun.

Penelitian ini tidak menyajikan data mentah. Peneliti memperkirakan populasi orang utan yang hidup di setiap 100 kilometer persegi. 

Populasi orang utan di setiap 100 kilometer persegi hutan kalimantan (medio 2009-2015) berjumlah 10 ekor. Sebelumnya, pada medio 1999-2002 orang utan masih berjumlah 15 ekor.

"Dalam 10 tahun terakhir populasi orang utan menurun 25 persen. Saat ini, terdapat 10 ribu orang utan yang hidup di area perkebunan kelapa sawit," kata Erik Meijaard, peneliti The University of Queensland, Australia. 

"Jika seluruh area di Borneo dibabat untuk perkebunan kelapa sawit, dan proteksi orang utan masih begitu-begitu saja, maka 10 ribu orang utan tersebut akan lenyap," Erik menambahkan.

Untuk menyelamatkan orang utan dibutuhkan jaringan hutan lindung yang dikelola dengan baik. Upaya saat ini hanya fokus pada penyelamatan dan rehabilitasi. Pemangku kepentingan dari tiga negara dianggap hanya mengatasi gejala bukan masalah utama.

Tahun lalu the International Union for the Conservation of Nature memasukan orang utan ke daftar hewan terancam punah. Hanya satu baris di bawah kepunahan. 

DAILY MAIL | THE UNIVERSITY OF QUEENSLAND

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments