hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

10 Juni 2017, 09:00 WIB

INDONESIA

Negara-negara Asia produsen sampah laut terbesar di dunia sepakat untuk menghentikan aksi mereka. 

Keinginan ini disampaikan di forum UN oceans summit di New York, 4 hingga 8 Juni 2017. Delegasi dari Indonesia, Cina, Thailand, dan Filipina berjanji akan membebaskan perairan mereka dari sampah-sampah plastik yang membahayakan lingkungan itu.

PBB memuji kesadaran mereka terhadap pencemaran yang terjadi di laut. Secara jelas dan tegas, negara-negara di Asia menganggap sampah di laut sebagai bahaya serius yang bisa mengancam kehidupan manusia.

Baca Juga:

- Dalam Hitungan Jam, Ulat Ini Sikat Habis Sampah Plastik
- Tong Sampah Canggih, Ubah Sisa Makanan Jadi Pupuk
- Dari Sampah Jadi Baterai

Sampah plastik mengotori pantai. (PIXABAY)

Bahaya sampah plastik bukan sekadar isapan jempol. Saat ini diperkirakan terdapat 5 hingga 13 juta ton sampah plastik mencemari perairan di seluruh dunia. 

Yang lebih bahaya, sampah-sampah plastik sudah mengontaminasi organisme yang berada di lautan. Hewan-hewan seperti burung dan ikan juga telah terpapar oleh zat kimia yang dibawa melalui sampah plastik.

Sebuah jurnal ilmiah mengatakan, sebagian besar sampah laut plastik berasal dari daratan. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh negara berkembang yang sedang mengalami lonjakan ekonomi. Umumnya, negara-negara tersebut tidak memiliki fasilitas pengolahan sampah yang mumpuni. 

Terdapat 5 hingga 13 juta ton sampah mengotori lautan. (PIXABAY)

The Helmholtz Centre Leipzig mengatakan, 75% sampah laut plastik berasal dari 10 sungai-sungai besar yang berada di Asia. Mereka menambahkan, mengurangi 50% sampah plastik di sungai bisa mengurangi 37% sampah plastik di Lautan.

BBC | UN

1

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments