EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

8 Juni 2017, 08:05 WIB

SOLO, INDONESIA

Replika Garuda Pancasila memang sudah sering kita temui di sekolah atau gedung pemerintahan. Tapi pernah enggak sih kamu merasa penasaran dari mana datangnya replika tersebut?

Ternyata, replika lambang negara itu berasal dari tangan terampil seorang pengerajin kayu yang bernama Pak Fuad. Ia adalah seorang warga dari Desa Pucangsawit, Solo, Jawa Tengah.

Fuad, perajin replika Garuda Pancasila. (NET.CJ/Eko Primaryanto)

Sejak tahun 1976, ia sudah menggeluti usaha pembuatan replika Garuda Pancasila. Untuk membuat replika tersebut, Fuad hanya membutuhkan alat kerja yang sederhana seperti gergaji, pisau, dan palu.

Sedaangkan kayu yang dipilih untuk membuat replika ini adalah lembaran kayu akasia. Kayu ini dipilih karena lebih mudah di gergaji dan dipahat. Selain kayu akasia, bahan lain yang juga dibutuhkan adalah kayu triplek untuk tulisan 'Bhinneka Tunggal Ika'.

Replika Garuda Pancasila. (NET.CJ/Eko Primaryanto)

Saat lembar kayu akasia sudah terkumpul, Fuad langsung memotong sesuai dengan ukuran. Kemudian, kayu tersebut dipahat dengan menggunakan pisau hingga membentuk sebuah burung Garuda. Setelah terbentuk, replika tersebut pun dibri warna sesuai dengan warna lambang negara.  

Berkat tangan terampilnya, replika buatan Fuad pun laris diminati oleh para pembeli dari dalam maupun luar kota. Namun karena kurangnya tenaga, ia sering merasa kewalahan untuk memenuhi pesanan tersebut.

Replika Garuda Pancasila. (NET.CJ/Eko Primaryanto)

Biasanya, Fuad mulai membuat replika ini sesuai dengan pesanan. Dalam satu minggu, Ia mampu membuat 10 replika berukuran kecil. Dirinya pun mengaku bisa membuat replika dengan berbagai ukuran mulai dari 30 cm hingga satu meter.

Untuk harga jual, ia mematok harga mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung dari ukuran replika yang dipesan.

Replika Garuda Pancasila. (NET.CJ/Eko Primaryanto)

Pada awalnya, banyak warga yang juga berprofesi seperti Fuad. Sayangnya, banyak dari mereka memutuskan untuk menekuni profesi lain yang penghasilannya dinilai lebih besar. Sehingga saat ini, hanya dirinya lah yang masih bertahan sebagai pengerajin lambang burung garuda.

 NET.CJ EKO PRIMARYANTO

 

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments