hero
Bendera ISIS pendukung negara Islam. (REUTERS)

EDITOR : TITO SIANIPAR

5 Juni 2017, 12:49 WIB

INDONESIA

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan survei terhadap gagasan pendirian khilafah atau negara Islam. Hasilnya mayoritas, yakni 89,6 persen menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan perjuangan mereka.

"Hampir semua warga menolak keberadaan ISIS dan khilafah untuk menggantikan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945," kata Saiful Mujani, pendiri SMRC, saat mempublikasikan hasil surverinya, kemarin di Jakarta.

Survei dilakukan terhadap 1.500 responden di seluruh Indonesia yang memiliki hak memilih dalam pemilihan umum. Pemilihan responden dilakukan secara multistage random dengan margin of error 2,7 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Selain menolak adanya negara Islam, sebanyak 91,3 persen responden menyatakan setuju jika negara melarang keberadaan ISIS. Pasalnya keberadaan ISIS dilihat sebagai ancaman pada negara Indonesia. Sehingga 92,9 persen menyatakan ISIS tidak boleh hidup di Indonesia.

Diskusi hasil survei SMRC. (NET/Hafizh)

Selain terhadap ISIS, responden juga menolak keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang punya gagasan sama yakni mendirikan khilafah. Dari 28,2 persen yang tahu HTI, sebanyak 68,8 persen menolak perjuangan mereka. Bahkan dari situ sebanyak 78,4 persen setuju pemerintah bubarkan HTI.

Survei juga menghasilkan angka hampir absolut, yakni 99 persen ketika ditanya apakah bangga menjadi warga Indonesia. Dari situ, sebanyak 84,5 persen menyatakan bersedia menjadi relawan penjaga negara kesatuan Republik Indonesia.

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola mengatakan hasil survei ini melegakan. "Karena pada dasarnya rakyat Indonesia tidak menerima ISIS dan HTI. Hanya kelompok-kelompok tertentu saja di minoritas," kata Thamrin.

Sosilog UI Thamrin Amal. (NET/Hafizh)

Apa yang dilakukan ISIS dan HTI, lanjut Thamrin, tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar Indonesia yang majemuk. "Yang paling utama dari ISIS dan HTI ini adalah ekslusif. "Mereka menarik garis batas yang tegas antara mereka dan kita," ujarnya.

ANJANA DEMIRA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments