hero
Ilustrasi anak yang sakit. (PIXABAY)

EDITOR : TITO SIANIPAR

2 Juni 2017, 15:30 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Kerap kali orang tua panik ketika mengetahui anaknya sakit. Mulai dari memberikan obat penurun panas saat demam, hingga membawa buah hati ke dokter rumah sakit atau bahkan instalasi gawat darurat agar ia segera diinfus.

Ternyata tindakan medis seperti itu tidak selalu benar. Dokter anak subspesialis gastrohepatologi Purnamawati S.Pujiarto, SpAK, MMPed. mengatakan sejatinya tidak perlu memutuskan tindakan medis terhadap anak terlalu cepat.

"Di industri kesehatan, sebesar lima puluh persen penanganan tidak diperlukan dan tidak efektif," kata perempuan yang kerap disapa Wati itu pada acara Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua atau PESAT, April 2017 lalu.

Menurut Wati, seharusnya setiap orang tua menerapkan wait and see approach atau pendekatan menunggu sambil mengamati sampai batas waktu tertentu. Pasalnya, ia mengingatkan, selalu ada kepentingan bisnis di balik tindakan medis rumah sakit. 

Dokter Wati saat presentasi. (NET/Febi)

Kepada pasiennya, Wati selalu meminta rajin membaca dari referensi terpercaya seputar kesehatan sebelum masuk ke ruang praktik dokter. Seperti situs Royal Children Hospital, Mayo Clinic, Centers for Disease Control and Prevention, Kids Health, Milis Sehat, dan IDAI. 

Jika ternyata harus membawa anak ke dokter, pastikan orang tua sudah menyiapkan amunisi berupa bekal pengetahuan yang bisa didiskusikan dengan dokter. Dengan begitu, konsultasi dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Orang tua juga harus kritis jika tenaga medis hendak memberikan penanganan yang dirasa berlebihan, sementara kondisi klinis anak masih wajar. Jangan takut meminta penjelasan dengan istilah medis untuk dipelajari lebih jauh dan didiskusikan dalam forum Milis Sehat.

Bahan presentasi dokter Wati. (NET/Febi)

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua sebelum membawa anak ke dokter:
1. Tanamkan tujuan pasien ke dokter adalah untuk menegakkan diagnosis, bukan menyembuhkan penyakit dengan segera karena itu hal mustahil.
2. Fokus ke masalah. Kumpulkan semua gejala yang dicatat atau direkam dengan foto/video selama wait and see approach untuk menegakkan diagnosis penyakit bersama dokter. Jangan segan pula untuk menunjukkan referensi bacaan ketika konsultasi.
3. Catat pertanyaan untuk diajukan kepada dokter. Cara bertanya kepada dokter harus bijak agar diskusi dapat berjalan dengan baik.
4. Kenali tanda-tanda gawat darurat, misalnya dehidrasi, napas cepat, anak tidak bisa berkomunikasi, dan sebagainya.
5. Kenali penyakit langganan anak. Menurut dr. Wati, penyakit langganan anak dan balita bersifat remeh-temeh dan sembuh sendiri tanpa obat.
6. Kritis bila dokter meresepkan lebih dari dua obat dan minta penjelasan cara kerja masing-masing obat.

Ilustrasi obat-obatan. (PIXABAY)

Dengan tips tersebut, diharapkan orang tua lebih siap jika harus membawa anak ke dokter. "Keputusan ke tenaga kesehatan tak hanya bermodal badan dan dompet, tapi juga akal. Keluar ruang kosultasi, kita boleh pulang tanpa membawa obat, tapi diagnosis harus tegak," pesan Wati. 

FEBI PURNAMASARI

7

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments