hero
Ilustrasi hati-hati di media sosial. (NETZ)

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

2 Juni 2017, 04:00 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Koordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network(SAFENet) Damar Julianto mengatakan, persekusi adalah tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan suatu pihak dengan sewenang-wenang dan secara sistematis.

"Jadi ini bukan main hakim sendiri, tapi ini ada rangkaiannya. Tahapannya sangat sistematis," kata Damar saat konferensi pers Koalisi Anti-Persekusi di kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Juni 2017.

Damar Julianto (kiri) saat konferensi pers Koalisi Anti-Persekusi. (NET/Fuad Kurniawan)

Tahapannya, kata Damar, diawali dengan menentuan target operasi, lalu mengunggah postingan target yang dianggap menistakan Islam dan ulama ke media sosial. Selanjutnya, menyerukan perburuan target diikuti aksi ke lapangan. Target, lanjut Damar, dipaksa untuk membuat pernyataan maaf di sebuah surat.

"Ada dokumentasi dalam bentuk foto atau video. Kemudian diviralkan lagi di media sosial," kata Damar. Terakhir, target akan dibawa ke kepolisian untuk dipidanakan.

Koalisi Anti-Persekusi mencatat ada 59 korban persekusi sejak Desember 2016. (NET/Januar Yudha)

Menurut Damar, aksi persekusi menjadi ancaman dalam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Menghindari aksi persekusi, Damar mengingatkan pengguna media sosial harus menjaga data privasi di media sosial. 

"Di media sosial, informasi sensitif yang menyangkut  rumah atau kantor, disimpan rapat-rapat," ujar Damar.

Ilustrasi media sosial. (NETZ)

Damar juga meminta masyarakat untuk tidak takut berpendapat di media sosial. "Kita harus berani karena ketakutan berekspresi adalah tujuan mereka," tutur Damar.

Selain itu, lanjut Damar, Koalisi Anti-Persekusi, juga membuka aduan jika mendapat ancaman persekusi. Aduan dapat disampaikan lewat pesan singkat atau telepon di nomor 0812-8693-8692. Ada juga layanan via email ke antipersekusi@gmail.com.

Fiera Lovita, salah satu korban persekusi. (NET/Fuad Kurniawan)

Sejak Desember 2016 hingga Mei 2017, koalisi mencatat ada 59 korban persekusi atau perburuan disertai intimidasi karena berbeda pendapat di media sosial.

Kasus persekusi yang terjadi baru-baru ini menimpa Fiera Lovita, dokter asal Solok, Sumatera Barat. Kemudian seorang pemuda berusia 15 tahun berinisial PMA, warga Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Korban persekusi AMP, berusia 15 tahun. (ISTIMEWA)

Mereka menjadi korban korban persekusi setelah mengunggah status di Facebook, tentang pandangan dan pendapatnya mengenai kasus pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

JANUAR YUDHA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments