hero
Pekerja melakukan inspeksi alat Synlight yang digunakan untuk menghasilkan energi ramah lingkungan. (NEWATLAS)

EDITOR : OCTOBRYAN

27 Maret 2017, 07:35 WIB

JERMAN

Komitmen pemerintah Jerman untuk menghasilkan energi terbarukan patut diacungi jempol. Meskipun negara itu tergolong miskin sinar matahari, para ilmuwan Jerman tak kehilangan semangat.

Pusat Riset Antariksa dan Aeronatika Jerman baru-baru ini membangun sebuah proyek matahari buatan bernama Synlight. Matahari baru itu dikenalkan ke publik di Kota Jülich, 19 mil barat Cologne, Jerman.

Proyek Synlight yang dikembangkan German Aerospace Center. (NEWATLAS)

Menurut New Atlas, matahari yang memakai listrik sebagai energi pembangkitnya itu akan digunakan untuk beragam penelitian, termasuk untuk memproduksi bahan bakar hidrogen dengan bantuan sinar matahari.

Sinar matahari yang alami tentu saja memancarkan potensi energi yang melimpah. Tapi bagi pengembangan teknologi baru, bintang induk itu dinilai masih kurang mendukung.

Skema eksperimen tenaga surya yakni memanen panas dari matahari untuk memproduksi uap untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. (NEWATLAS)

Ia menghilang ketika malam, atau saat langit mendung tebal. Bahkan di beberapa belahan dunia, ia bisa absen selama beberapa bulan. Karena itulah para ilmuwan merasa perlu membuat matahari buatan.

Synlight disusun oleh 149 buah lampu yang masing-masing berkekuatan 7 kilowatt. Lampu yang bertudung dengan bentuk parabola seperti corong itu mampu menghasilkan energi listrik hingga 11 megawatt per meter persegi.

Ratusan lampu sorot proyektor ini bisa menghasilkan panas sampai 3000 derajat celcius. (NEWATLAS)  

Pada pengaturan maksimal, Synlight dapat memberikan 320 kilowatt atau 10 ribu kali radiasi matahari yang normal di atas permukaan bumi. Suhunya bisa mencapai 3.000 derajat Celcius.

Menurut pihak Pusat Riset Antariksa dan Aeronatika Jerman, temperatur ekstrim yang dihasilkan itu penting untuk proses pembuatan bahan bakar berupa hidrogen. Di masa depan, gas itu merupakan bahan bakar ‘hijau’ atau ramah lingkungan. Residunya hanya berupa air ketika gas itu dibakar.

Peneliti German Aerospace Center masih terkendala besarnya input energi untuk Synlight. (NEWATLAS)

Namun proses itu memerlukan energi yang sangat besar. Bahan bakarnya untuk menghasilkan hidrogen itu sejauh ini masih memakai bahan bakar minyak.

Jerman berharap Synlight dapat membantu peneliti untuk menghasilkan cara yang efisien guna memisahkan air hingga menjadi hidrogen dan oksigen dengan bantuan sinar matahari.

Sistem kerja alat Synlight mengubah cahaya menjadi energi. (NEWATLAS) 

Proses itu baru sukses di uji laboratorium, namun belum sampai untuk produksi skala industri.

Biaya pembuatan matahari buatan tersebut menghabiskan dana US$ 3,7 juta. Mayoritas biayanya ditanggung negara bagian North Rhine-Westphalia,  Jerman. Kementerian Ekonomi dan Energi Jerman ikut menyumbang US$ 1,2 juta.

NEW ATLAS | REUTERS

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments