hero

EDITOR : OCTOBRYAN

19 Februari 2017, 20:00 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Tujuh anak berusia 3-13 tahun asal Papua yang  diduga menjadi korban eksploitasi dibebaskan setelah dua tahun menghuni penampungan di Kalisari, Jakarta Timur.

Ketua Komisi Nasional Anak Arist Merdeka Sirait mangatakan awal terungkapnya kasus itu berawal dari tertangkapnya dua anak ketika mencuri makanan di warung milik warga.

"Si anak berhasil melarikan diri dan mencuri roti di warung, lalu diselamatkan warga," ujar Arist di Jakarta, Minggu, 19 Februari 2017.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait (kiri) melakukan pendampingan kepada nenek dari anak terduga korban kekerasan Paulina Magal. (ANTARA)

Arist melanjutkan, warga yang mengetahui hal tersebut kemudian menghubungi Polres Jakarta Timur, Kementerian Sosial, Komnas Anak kemudian mendatangi tempat penampungan yang terletak di Jalan Intisari, Kalisari, Jakarta Timur untuk membebaskan lima anak lainnya.

"Totalnya tujuh anak kami temukan di tempat penampungan dalam kondisi tidak baik," tambah Arist.

Tujuh anak berinisial H, 10 tahun; N, 13 tahun; YY, 9 tahun; Y, 9 tahun;, CR, 5 tahun; JH 5 tahun; dan K, jelas Arist, kerap mendapatkan kekerasan fisik dari pengasuhnya, SK, 35 tahun.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait (kanan), beserta keluarga anak Papua memberikan keterangan pers di Kantor Komnas Anak. (ANTARA)

"Sekarang pelaku sudah ditahan polisi," tambahnya.

Arist menjelaskan, bermodus membuka sekolah misionaris di Jakarta, pelaku kemudian mengiming-imingi keluarga korban agar anaknya bisa ikut dengan dirinya. Namun, pendidikan misionaris dari pelaku tak berjalan sama sekali.

Alih-alih diperlakukan dengan baik, selama dua tahun, ketujuh bocah itu malah mendapat kekerasan verbal maupun fisik, terlebih pada korban paling tua, M, yang berumur 13 tahun.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait, Komisioner Komnas Anak Ima Umiyati (kedua kanan), dan keluarga anak Papua di Kantor Komnas Anak. (ANTARA)

"Dia yang paling parah karena dianggap tidak bisa menjaga enam adik yang lain," beber Arist.

Hal tersebut dibenarkan oleh kerabat korban, Janua Wawang. Ia mengaku tertipu oleh pelaku karena tiap bulan mengirimkan uang dengan harapan agar diberikan pendidikan yang layak.

Eksploitasi terhadap anak Papua sudah berjalan dua tahun. (ANTARA)

"Pada kenyataannya korban diperlakukan tidak manusiawi," tutur Janua.

Arist menuturkan, dua anak yang diselamatkan pada dua hari lalu kini sudah dikembalikan kepada kerabat mereka. Dua lainnya akan dipulangkan ke Timika hari ini. Sedangkan tiga lainnya, CR, JH dan YY masih belum jelas identitas keluarganya. Namun kini ketiganya sudah berada di tempat yang aman.

"Kami berkoordinasi dengan Polres Timika dan Pemda Timika, mereka akan melacak identitas keluarga tiga bocah tersebut," Pungkasnya.

JANUAR YUDHA | HUSNI MUBAROK

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments