hero
(PIXABAY)

EDITOR : REZA ADITYA

15 Februari 2017, 07:00 WIB

INDONESIA

Perayaan hari kasih sayang atau biasa disebut Valentine’s Day 2017 ini bersenggolan dengan momen pencoblosan kepala daerah, termasuk gubernur DKI Jakarta. Hanya berselang satu hari.
 
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, momen perayaan hari penuh cinta kali ini sepi dari pernyataan haram merayakannya. Biasanya afirmasi itu dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bagi umat Islam dalam merayakan Valentine.

Sejumlah siswa yang protes terhadap perayaan Valentine di Surabaya. Pemberitaan haramnya merayakan hari kasih sayang justru disorot media asing. (REUTERS)


 
“Karena memang sejauh ini belum ada laporan dari masyarakat,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF, kepada NET.Z pekan lalu. “Kalau ada, baru kami meresponsnya.”
 
Hasanuddin menduga ada hal yang dianggap lebih penting oleh masyarakat ketimbang permintaan memfatwakan haram Valentine. Apakah karena isu penodaan agama yang diduga dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, "Mungkin saja," dia diplomatis.
 
Dalam pekan-pekan terakhir, pemilihan kepala daerah DKI Jakarta menjadi sorotan publik, terutama warga ibu kota. Hampir semua pemberitaan tertuju kepada tiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur.
 
Publisitas terkait dugaan penodaan agama cagub nomor urut 2, Basuki alias Ahok paling menyita perhatian. Yang paling anyar adalah aksi damai 112, yang menuntut Ahok dibui.

Sejumlah siswa muslim di Surabaya tolak Valentine. (REUTERS)


 
MUI di tahun-tahun sebelumnya sering mengeluarkan pernyataan yang mengharamkan perayaan Valentine. Misalnya, pada tahun 2015.
 
Saat itu, Ketua Umum MUI Maruf Amin, masih menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa. Maruf membuat pernyataan bahwa perayaan Valentine terlarang.
 
Alasannya, Valentine mengarahkan pemuda-pemudi pada perbuatan maksiat. Pernyataan Maruf itu diikuti pengurus MUI di sejumlah daerah.
 
Setahun berikutnya, MUI Kota Malang merumuskan haramnya perayaan Valentine itu menjadi sebuah fatwa dengan nomor 04/FTW-MUI/KTMLG/II/2016. Fatwa itu mendapat respons beragam.
 
Hasanudin mengatakan, tahun ini sebenarnya MUI Jawa Timur baru mengeluarkan fatwa tabunya orang Islam memperingati hari kasih sayang. Fatwa itu diberi nomor Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017.
 
Menurut dia, setiap daerah berhak mengeluarkan fatwa sesuai dengan kebutuhannya. “Tapi kalau untuk tingkat nasional, belum.”

Fatwa yang dikeluarkan MUI Jawa Timur itu tidak mendapat respons yang luar biasa, khususnya dalam pemberitaan media massa. Pengamat komunikasi dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai isu haramnya Valentine tak lagi seksi.

Surat suara pilkada DKI Jakarta. (ANTARA)

 

"Karena adanya isu pemilihan kepala daerah DKI Jakarta," kata Hendri. "Kan dekat sekali pencoblosan tanggal 15 Februari, dan Valentine tanggal 14 Februari."

Menurut Hendri, ketergantungan masyarakat terhadap media massa dan media sosial saat ini masih sangat kuat. "Bahkan begitu heboh, ya ikut-ikutan heboh. Kalau tak dihebohin, ya mereka biasa saja," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Hendri, hari kasih sayang tahun ini sepi dari pernyataan haram. "Semua tertutup karena pilkada DKI Jakarta," pungkasnya.

EDUARD VIDIYADI

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments