hero
Logo BIN dan Bendera Indonesia. (NET.Z/Vino Fernando)

EDITOR : REZA ADITYA

2 Februari 2017, 22:00 WIB

INDONESIA

Badan Intelijen Negara (BIN) buka suara terkait isu penyadapan perbincangan antara Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Maruf Amin. Lembaga telik sandi itu membantah terlibat dalam penyadapan.

"Kami menegaskan bahwa informasi tersebut bukan berasal BIN," kata Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi BIN Sundawan Salya, melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Februari 2017. 

Sundawan mengatakan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada persidangan yang menyebut adanya komunikasi antara Maruf dan Yudhoyono tidak disebutkan secara tegas. "Apakah dalam komunikasi verbal atau penyadapan telepon."

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan pers soal dugaan penyadapan percakapan telepon  dengan Ketua MUI Maruf Amin di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu,1 Februari 2017. (ANTARA)

 

Informasi penyadapan itu, kata Sundawan, menjadi tanggung jawab Ahok dan penasihat hukumnya. "Yang telah disampaikan kepada majelis hakim dalam proses persidangan tersebut," ujar dia.

Sundawan mengatakan berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, lembaganya merupakan elemen utama dalam sistem keamanan nasional. Dalam menjalankan tugas, peran dan fungsinya, BIN diberi kewenangan menyadap.

Namun fungsi penyadapan yang dilakukan BIN menurut Sundawan hanya untuk kepentingan fungsi intelijen dalam menjaga keselamatan, keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Yang hasilnya tidak untuk dipublikasikan apalagi diberikan kepada pihak tertentu," ujar Sundawan.

Sebelumnya, Yudhoyono menduga pembicaraannya dengan Maruf Amin pada Oktober 2016 disadap. Musababnya, kuasa hukum terdakwa penodaan agama Ahok sempat menanyakan kepada Maruf pada persidangan.

Ketua MUI Maruf Amin saat memberikan kesakian pada sidang dugaan penodaan agama yang dilakukan Ahok di auditorium Kementerian Pertanian. (ANTARA)

 

Presiden RI ke-6 itu mengakui pada Oktober 2016 ada sambungan telepon ke tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Ketika itu, putranya Agus Harimurti bertemu Pengurus Besar NU dan PP Muhamadiyah.

Agus datang bersama pasangan calon wakil gubernur Sylviana Murni. Menurut dia, telpon itu tak terkait politik seperti yang ditudingkan pengacara Ahok dalam persidangan.

Yudhyono geram atas dugaan penyadapan itu. Dia meminta aparat penegak hukum menindak oknum yang diam-diam menguntit percakapannya dengan Maruf.

TIM LIPUTAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments