Mary Jo (rambut pirang). (NET/Ronny Suyanto)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

2 Februari 2017, 05:05 WIB

AMERIKA SERIKAT

Cinta tidak mengenal warna kulit dan agama! Kalimat itu menjadi kekuatan bagi Mary Jo Copeland. Seorang warga Amerika Serikat yang peduli terhadap masalah kemanusiaan.

Wanita berusia 75 tahun ini adalah pendiri Sharing and Caring Hands. Sebuah organisasi kemanusiaan untuk membantu mereka yang tidak memperoleh bantuan kesejahteraan.

Mary Jo Copeland. (NET/Ronny Suyanto)

Organisasi ini tidak membedakan asal usul seseorang. Baik itu suku, agama, ras bahkan negara. Siapa saja yang ingin masuk dan berbagi di sini, diterima dan diperlakukan dengan baik.

Cerita dirinya mulai terketuk untuk berkecimpung di dunia kemanusiaan terjadi sekitar tahun 1985. Tekatnya untuk membantu sesama semakin kuat. Ia kemudian mencari cara untuk berbagi.

Tahun 1990, ia memutuskan untuk membangun sebuah tempat persinggahan pertama untuk menampung imigran bernama Mary's Place. Tempat penampungan ini terletak di Minneapolis.

Anak-anak di Mary's Place. (NET/Ronny Suyanto)

Kota ini menjadi tujuan utama bagi imigran muslim asal Somalia. Tidak sekitar 82 ribu imigran muslim Somalia menjadikan kota ini sebagai rumah kedua untuk menyambung hidup.

"Harapan saya bagi orang-orang ini, mereka akan menemukan kedamaian. Mereka sempat mengalami masa sulit karena tinggal di pengungsian. Mereka juga telah melewati perjalanan yang panjang yang begitu berat. Mereka tidak akan mengalaminya lagi di sini," ucap Mary.

Di Mary’s Place menyediakan berbagai fasilitas lengkap. Mulai dari tempat tinggal, mencuci pakaian, sarana olahraga,  hingga klinik kesehatan. Semua yang tinggal di sini harus mendiri.

Mary Jo Copeland bersama relawan. (NET/Ronny Suyanto)

Biasanya para imigran paling lama tinggal penampungan ini selama setahun. Sembari belajar bahasa Inggris mereka juga beradaptasi dengan kehidupan Amerika.  Setelah itu baru mencari pekerjaan.

Kemanusiaan memang tidak menghalangi seseorang untuk berbagi. Mary beragama Katolik, tetapi kiprahnya membantu muslim Somalia seolah membuktikan bahwa agama tidak jadi soal.

Tanpa ragu-ragu wanita paruh baya ini memeluk dan merangkul erat para imigran Muslim tersebut. Semua dilakukan, karena baginya masalah kemanusiaan tidak ada hubungannya terhadap agama.

"Cintailah sesama karena pada dasarnya Tuhan menciptakan semua manusia sama. Mereka menghargai agama saya dan saya mengahargai agama mereka. Kita semua menyembah Tuhan yang sama," tutupnya.

Mary's Place. (NET/Ronny Suyanto)

Kehidupan masa kecil Mary sangat miskin. Ia dibesarkan dalam suasana yang sulit. Orang tuanya kerap bertengkar dan ayahnya kerap melakukan kekerasan fisik pada ibunya.

Kenangan pahit ini kemudian membangkitkan rasa kemanusiaannya. Ia kemudian berupaya sebisa mungkin untuk membuat perubahan. Berkat ketulusannya, ia pernah mendapat penghargaan Presidential Citizen's Medal dari Presiden AS ke-44 Barack Obama.

Upaya Mary untuk berbagi kepada muslim seolah berseberangan dengan kebijakan Presiden Donald Trump belakangan ini. Trump secara tegas menolak kedatangan warga tujuh negara muslim. Kebijakan ini memicu banyak penolakan dari masyarakat Amerika.

NET MUSLIM TRAVELERS | FIRZA ARIFIEN | RONNY SUYANTO

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments