hero
Ilustrasi bayi dan Trump. (NET.Z)

EDITOR : TITO SIANIPAR

1 Februari 2017, 00:05 WIB

AMERIKA SERIKAT

Hari-hari Rachel Adrian di penghujung kehamilannya harus dilalui dengan penuh kegundahan. Impiannya untuk bisa melahirkan anak pertamanya pekan ini dengan didampingi suaminya, harus dikubur dalam-dalam.

Hogen Ameen, suami Rachel, tak bisa datang ke kediaman mereka di Missouri, Amerika, lantaran kebijakan Presiden Donald Trump soal larangan keimigrasian dan pengungsi. Ameen adalah warga Irak keturunan Kurdi.

"Saya tidak tahu kapan dia akan bisa bertemu dengan anaknya," kata Rachel seperti dikutip Daily Mail, Senin, 30 Januari 2017. "Itu sangat menyedihkan buat kami," tambah perempuan 29 tahun itu.

Iraq bersama enam negara lainnya, yakni Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman masuk daftar black list Trump. Dia melarang kedatangan imigran dan pengungsi dari negara-negara mayoritas muslim tersebut.

Presiden Donald Trump di kantor kepresidenan AS. (REUTERS)

Alasan Trump memberlakukan larangan selama 90 hari itu adalah untuk melindungi negara dan warga Amerika dari teroris. Kebijakan kontroversial itu mendapat tentangan luas di Amerika dan bahkan dari berbagai belahan dunia.

Rachel yang bekerja sebagai perawat, bertemu dengan Ameen pada 2013 lalu, ketika terlibat dalam program bantuan kemanusiaan di Irak. Mereka menjalin kisah asmara, memadu kasih, dan menikah setahun kemudian di Irak.

Setelah selesai misi sosialnya, Rachel pulang ke Amerika dan menunggu Ameen yang bekerja di bidang telekomunikasi. Mereka menghabiskan US$ 2 ribu (sekitar Rp 26 juta) untuk mengurus visa dan segala macam kebutuhan kepindahan Ameen ke Amerika.

Demo menentang kebijakan Trump di Washington, Atalanta, Los Angeles, Portland. (REUTERS)

Pada Juni 2016 lalu, Kedutaan Amerika di Bagdad, Irak sudah menyatakan permohonan visa Ameen dikabulkan. Ameen yang berdomilisi di Sulaymaniah, Irak, menunda keberangkatan ke Amerika dan menunggu mendekati tanggal kelahiran anak mereka.

Pada akhir pekan lalu, kabar mengejutkan itu sampai ke Ameen melalui surat elektronik yang dikirimkan Kedutaan Amerika. Isinya pemberitahuan adanya pembatasan keimigrasian yang baru diterapkan Trump, dan Irak adalah salah satunya.

Dalam suratnya kepada Rachel, Ameen menuliskan, "Saya takut ketika saya bertemu dengan anak saya, dia tidak akan mengenaliku." Pria 29 tahun itu merasa jijik dengan aturan Trump yang memaksa mereka harus terpisah ribuan kilometer.

Pasangan Ameen dan Rachel. (DAILYMAIL)

'Aksi balasan' Irak yang akan melarang setiap warga negara Amerika ke Negeri 1001 Malam itu, juga mempersulit Rachel dan Ameen. Jika itu terealisasi, berarti Rachel dan Aland --nama bayi mereka kelak, tidak akan bisa ke Irak menemui Ameen.

Melalui akun twitternya, dengan mentautkan akun resmi Donald Trump, Rachel menyatakan sikapnya terhadap kebijakan Trump. "Sori Donald, ada satu anak kecil Kurdi Irak yang tak bisa kau hentikan untuk datang ke negeri ini," cuitnya merujuk Aland.

Semua mafhum, satu orang Aland atau Ameen takkan bisa mengubah kebijakan Trump soal keimigrasian ini. Bahkan kandidat presiden Bernie Sanders dalam orasinya menyebut Trump justru membuat Amerika dimusuhi warga muslim dunia.

Postingan Rachel di twitter.

"Apa yang dilakukan Trump memberikan amunisi kepada jihadis seluruh dunia untuk mengatakan bahwa Amerika membenci mereka," kata Bernie. "(Padahal) kami warga Amerika tidak membenci orang muslim, dan kami ingin mereka tahu itu."

Kata-kata Bernie terbukti. Ribuan warga Amerika turun ke jalanan di berbagai kota memprotes kebijakan anti imigran Trump. Mereka membawa poster yang bertuliskan "Refugee welcome", "There is no US without muslims", dan sebagainya.

DAILY MAIL | REUTERS

3

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments