hero

EDITOR : AULIA RAHMAT

1 Februari 2017, 17:00 WIB

AMERIKA SERIKAT

Raksasa Silicon Valley geram dengan perintah eksekutif Trump untuk membatasi laju pengungsi dari sejumlah negara Islam ke AS. Google, Facebook, dan Microsoft secara terbuka menolak dan bersikukuh akan melindungi karyawan mereka dari segala ancaman yang mungkin ditimbulkan.

Jumat malam, 27 Januari 2017, Google memerintahkan sebanyak 100 karyawannya yang sedang berlibur ke luar negeri untuk segera kembali. Hal ini dilakukan agar mereka tidak terjaring penerapan perintah eksekutif Trump.

"Ini sangat tidak megenakan bagi kolega kami yang terdampak perintah eksekutif Trump," tulis CEO Google, Sundar Pichai, dalam sebuah memo kepada seluruh karyawannya.

 

 

Langkah ini hanyalah sebuah permulaan. Senin, 10 Januari 2017, kecaman berlanjut di jalanan, 2 ribu lebih pegawai Google di delapan kantor dari seluruh dunia melakukan aksi mogok kerja. 

Ini adalah bentuk protes terhadap perintah eksekutif Trump yang melarang kehadiran imigran dari tujuh negara mayoritas muslim, yaitu Iran, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Libya, dan Sudan memasuki wilayah AS.

"Kebijakan imigrasi Trump akan menghalangi talenta-talenta hebat menjejakkan kaki di bumi  Amerika. Kami akan terus membawa isu ini hingga ke Washington," ujar Juru Bicara Google seperti dikutip dari cnet.

Di hari yang sama, suara senada dilontarkan CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

"Seperti sebagian besar dari kita, saya pun khawatir dengan dampak dari perintah eksekutif yang baru saja ditandatangani Presiden Trump. Kita perlu membuat negara kita aman, namun, hal itu dilakukan dengan cara melindungi orang-orang yang justru terancam," tulis Mark dalam akun Facebooknya, Jumat, 27 Desember 2017.

 

 
Sehari setelah Friday night, Facebook memeriksa dampak perintah eksekutif terhadap karyawannya. Mereka juga mendesain sebuah aturan guna melindungi para karyawan yang terancam karena aturan kaku tersebut.
 
Di lokasi berbeda, Microsoft telah mengirimkan memo kepada 76 orang karyawan yang terancam terdepak perintah eksekutif. Melalui divisi legal, perusahaan akan membantu memberikan penasihat hukum bagi karyawan yang terancam.
 
"Sebagai seorang imigran sekaligus CEO, saya telah berpengalaman dan melihat langsung begitu banyak dampak positif yang diberikan oleh para imigran terhadap perusahaan di AS. Kami akan melanjutkan upaya hukum untuk melindungi mereka," kata Satya Nadella, CEO Microsoft. 

CNET

 

 

 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments