hero
Kampus UII Yogyakarta. (NET/Sigit)

EDITOR : TITO SIANIPAR

23 Januari 2017, 19:21 WIB

YOGYAKARTA, INDONESIA

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta membentuk tim investigasi terkait kematian dua mahasiswa pecinta alam (mapala). Korban sempat menuturkan kepada ibunya bahwa ia mengalami kekerasan.

"Kami membentuk tim investigasi yang melibatkan unsur-unsur hukum, medis forensik, psikologi, dan pimpinan UII," kata Rektor UII Harsyono, di Yogyakarta, Senin, 23 Januari 2017.

Tim ini, lanjut Harsyono, sudah bekerja mengumpulkan fakta-fakta seputar kejadian memilukan itu. "Kami harapkan dalam seminggu ini dapat terselesaikan," kata Harsyono.

Kedua korban meninggal dalam acara pendidikan dasar Mapala UII adalah Syaits Asyam, mahasiswa Teknik Industri 2015 dan Muhammad Fadli, mahasiswa Teknik Elektro 2015. 

Rektor UII Harsyono, tengah. (NET/Sigit)

Mereka meninggal pasca mengikuti Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) Mapala Unisi UII di lereng selatan Gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Total peserta diksar Mapala UII ada 37 orang. 

Fadli diketahui meninggal dunia terlebih dahulu pada Jumat, 20 Januari 2017 dalam perjalanan menuju RSUD Karanganyar. Jenazahnya sudah diserahkan kepada keluarganya di Batam, Kepulauan Riau.

Korban kedua, Syaits, meninggal dunia di RS Bethesda Yogyakarta pada Sabtu, 21 Januari 2017 pukul 14.45 WIB. Keluarga awalnya tidak mengetahui Syaits dilarikan ke rumah sakit.

Foto korban Syaits Asyam semasa hidup. (NET)

"Kami tahunya jam 10.30 WIB ditelepon salah satu temannya. Padahal sudah masuk rumah sakit sejak pagi," kata Sri Handayani, ibunda Syaits. "Itu pun setelah dokternya mengancam 'Kalau orang tuanya tidak dikasih tahu, kamu yang tanggung jawab'," ujar Sri.

Di rumah sakit, Sri mendapati kondisi anaknya yang mengenaskan. Sekujur tubuhnya terdapat luka-luka. "Badannya tidak karuan. Dia sudah sekarat," tutur perempuan 46 tahun itu.

Sri Handayani, ibu korban. (NET)

Luka-luka itu, antara lain, ada di punggung, kedua tangan, kuku kaki kanan yang lepas. Syaits juga mengalami kesulitan bernafas karena diketahui ada luka di paru-paru sebelah kanan.

Karena kesulitan berbicara, lanjut Sri, dokter menyarankan mengambil kertas untuk mencatat perkataan Syaits. Dari pengakuannya ketahuan Syaits dianiaya, diinjak, dan disabet menggunakan rotan. 

Sri menunjukkan bukti prestasi Syaits. (NET)

Pengakuan Syaits, dia dipaksa mengangkat air menggunakan leher sehingga kesakitan. "Dia menyebut nama seniornya Yudi dari Sulawesi. Tapi saya tidak tahu siapa," ujar Sri.

SIGIT PAMUNGKAS

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments