Sulami sedang berjalan. (NET/Korniawan Arif)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

23 Januari 2017, 05:05 WIB

KAB. SRAGEN, INDONESIA

Senyum sumringah masih jelas tergambar dari raut wajah Sulami, warga Desa Selorejo, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah yang menderita penyakit ankylosing spondylitis. Penyakit langka ini membuat tubuhnya kaku seperti kayu.

Jangankan duduk, untuk sekedar berdiri dan beranjak dari tempat tidurnya saja, Sulami harus dibantu oleh keluarganya. Sehari-hari, ia hanya menghabiskan hidupnya dengan berbaring di tempat tidur.

“Seingat saya itu ada benjolan di leher, saat SD kelas empat. Terus sudah enggak bisa gerak tapi bertahap tangan satu. Kakinya satu sakit terus kini sudah setahun lebih,” Ujar Sulami sambil menahan sakit.

Sulami. (NET/Korniawan Arif)

Sulami sempat mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Solo. Tetapi karena kondisi ekonomi yang serba terbatas, keluarga memilih untuk membawanya kembali pulang ke rumah.

Beberapa tahun terakhir ini ia mendapatkan bantuan dari pemerintah. Meskipun bantuan tersebut sangat kecil, hanya berkisar Rp 3 juta setahun. Selain itu, petugas puskemas juga seminggu 2-3 kali menyambangi rumah Sulami untuk memeriksa kesehatannya.

“Untuk bantuan itu Rp 300 setiap bulan. Dua tahun kemarin itu sepuluh bulan. Terus 2016 kemarin juga sepuluh bulan. Jadi dari atas itu juga ada sepuluh bulan begitu,” kata Suyanto, petugas kecamatan Kedawung.

Sulami bersama keluarganya. (NET/Korniawan Arif)

Jenuh berada di kamar, sesekali Sulami minta dibangunkan dari tempat tidurnya. Sekedar jalan keluar rumah untuk menghirup udara segar. Sulami masih bisa berbicara. Jari jemarinya dan kedua kakinya masih bisa digerakkan. Sulami tak mau bermanja-manja dengan kondisinya ini.

Setiap hari, perempuan 35 tahun ini masih sanggup makan sendiri dengan menggunakan garpu yang telah dimodifikasi. Garpu dengan pegangan panjang ini sangat membantu Sulami yang ingin makan sembari berdiri.

Sulami dibantu keluarganya berusaha bangun dari tempat tidurnya. (NET/Korniawan Arif)

Sulami juga tidak lupa untuk menjalankan sholat lima waktu. Untuk mengusir kejenuhan di rumah, ia juga membuat berbagai kerajinan manik-manik.

Gejala penyakit ini mulai dideritanya sejak umur 10 tahun. Penyakit ini juga diderita oleh saudara kembarnya yang kemudian meninggal dunia pada 2012 lalu.  

KORNIAWAN ARIF

Bagi netizen yang ingin membantu Sulami dan menyumbangkan sebagian rezekinya bisa klik link di bawah ini: www.kitabisa.com/sulamimanusiakayu

 

4

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments