hero
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Cilincing, Jakarta Utara. (NET/Andry)

EDITOR : OCTOBRYAN

11 Januari 2017, 23:15 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini, taruna tingkat II Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Amirullah Adityas Putra harus meregang nyawa karena dianiaya.

Ketua Sekolah STIP non aktif Weku Frederick Karuntu mengaku kecolongan dengan peristiwa tersebut. Pasalnya, sejak peristiwa kematian taruna bernama Dimas Dikita Handono pada tahun 2014 dengan kejadian yang sama, sekolahnya memberlakukan pengawasan ketat terhadap para taruna.

taruna tingkat II Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Amirullah Adityas Putra tewas dianiaya senior. (NET)

"Sistem pengawasan sudah kami upayakan maksimal, kalau dibilang kecolongan iya," ujar Weku saat mendatangi rumah duka Amirullah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu, 11 Januari 2017.

Weku menjelaskan, tewasnya Amirullah juga jadi momentum bagi perbaikan sistem pengawasan di Akademi Ilmu Pelayaran tertua di Indonesia itu. Tidak hanya internal, kata Weku, pengawasan juga dilakukan bersama kepolisian dan TNI.

Almarhum Amirullah dikenal keluarga sebagai pribadi riang dan religius. (NET)

"Blok senior dan junior sudah kami beri pagar pemisah, ditambah CCTV, serta kerjasama dari polisi dan TNI Angkatan Laut dari pihak luar," jelasnya.

Akibat kejadian ini, Weku dinonaktifkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Dia mengaku pasrah dan siap mengikuti perintah atasannya.

Lokasi penganiayaan Amirullah Adityas Putra diberi garis polisi. (NET/Dede)

"Saya pasrah, saya siap mengikuti perintah. Saya juga ingin melakukan perubahan, tapi sesuai perintah, saya harus diganti," ujarnya.

Sementara itu, banyaknya pengaduan masyarakat terkait kekerasan yang ada di kampus STIP membuat Kepolisian Resort Jakarta Utara membuka posko pengaduan bagi korban yang ingin melaporkan.

"Kami buka sentra pengaduan bagi kerabat atau sahabat dari taruna yang merasa mendengar keluhan atau merasa anak saudaranya dirugikan," ujar Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Awal Chairuddin.

Tersangka pelaku penganiayaan Amirullah Adityas Putra ditangkap. (NET/Andry)

Sementara untuk kasus kekerasan tersebut, polisi menetapkan lima orang tersangka dan hingga kini masih melakukan pemeriksaan intensif.

"Peran pelaku berbeda-beda, masih didalami. Sementara kami kenakan pasal berlapis yaitu Pasal 170 dan 351 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara," jelasnya.

Kepolisian juga mencatat, Tidak ini saja sekolah kedinasan dari Kementerian Perhubungan itu terlibat kekerasan yang dilakukan oleh para senior kepada adik kelasnya. Setidaknya sudah terjadi beberapa kali kasus kekerasan di kampus berseragam biru ini.

BACA JUGA:
Pelajar STIP Cilincing Tewas, Diduga Dianiaya Senior
Begini Kronologi Tewasnya Siswa STIP Cilincing
Kata Pemerintah soal Tewasnya Siswa STIP
Full Day School? Mau Sekolah Aja Susah!

Pertengahan 2008, Agung Gultom, taruna tingkat pertama STIP tewas ditangan 10 seniornya. Kasus tersebut kemudian ditutupi pihak kampus. Mereka berdalih, korban tewas karena kelelahan saat mengikuti latihan pedang pora. 

Masih di tahun 2008, mahasiswa tingkat dua STIP bernama Jegos juga menjadi korban tindak kekerasan seniornya. Akibat penganiayaan tersebut korban mengalami gegar otak dan dilarikan ke Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara. Menurut tim dokter RS Pelabuhan, Jegos dianiaya menggunakan benda tumpul. 

Tahun 2014, nyawa Dimas Dikita Handoko melayang sia-sia ditangan tiga seniornya. Ia dan enam rekan seangkatannya dianiaya di sebuah rumah kos karena dianggap menghormati senior.

DIYAS PRADANA | HUSNI MUBAROK

2

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet"
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet"
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments