Aktivis Rachmawati Soekarnoputri (kiri) menangis saat beraudiensi dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon terkait dugaan makar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. (ANTARA)

EDITOR : OCTOBRYAN

10 Januari 2017, 22:15 WIB

JAKARTA, INDONESIA

Suasana Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 10 Januari 2016 terlihat berbeda. Sejumlah tersangka kasus makar menyambangi Wakil Ketua DPR Fadli Zon untuk mencurahkan pendapat atas kasus yang dituduhkan polisi kepada mereka.

Mereka antara lain Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ahmad Dhani, Hatta Taliwang, istri Sri Bintang Pamungkas yaitu Ernalia, turut juga sejumlah aktivis Advokat Cinta Tanah Air.

Pimpinan DPR Fadli Zon beraudiensi dengan Rachmawati Soekarnoputri terkait dugaan makar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. (ANTARA)

Salah satu tersangka makar Rachmawati Soekarnoputri mengungkapkan, hingga kini, ia masih mempertanyakan alasan polisi melayangkan tuduhan makar kepada dirinya.

Ia merasa difitnah, pasalnya unjuk rasa yang dilakukan pada 2 Desember 2016 adalah aksi damai. Ia mengaku sudah meminta izin dengan mengirimkan surat permohonan kepada Polda Metro Jaya terkait rencana aksi tersebut.

Aksi damai 2 Desember 2016 tuntut Ahok diadili. (NET)

"Kami juga mengatakan setelah selesai acara tanggal 2 Desember itu saya akan ke DPR-MPR dalam rangka menyampaikan petisi untuk kembali ke UUD 1945," ujar Rachmawati, Selasa, 10 Januari 2016.

Namun belum juga aksi berlangsung, ia kemudian ditangkap polisi dan dibawa ke Markas Brimob Kelapa Dua Depok untuk menjalani pemeriksaan sebelum kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Penangkapan aktivis terkait dugaan makar. (NET)

"Saya melihat ini ialah grand design untuk menyudutkan GNPF ataupun kami yang hadir saat aksi 4 November sebelumnya," jelas putri mantan Presiden Soekarno itu.

Rachma memohon kepada polisi untuk segera meluruskan tuduhan tersebut. Ia tahu betul apa yang dimaksud dengan perbuatan makar.

Rachma mengaku pernah mengalami hal serupa pada tahun 1965 saat menjaga ayahnya, Soekarno.

"Tahun 1965 itu saya di Istana dan saya tahu makar. Ada pasukan bersenjata tidak dikenal mengepung istana dan menanyakan di mana presiden," ujarnya.

Tiba-tiba, nada suara Rachma terhenti. Ia tercekat, seakan fatamorgana mengulangi kejadian yang menimpanya 51 tahun silam.

Rachmawati Soekarnoputri menangis saat beraudiensi dengan pimpinan DPR. (NET/Luther)

"Sedangkan yang kami lakukan hanya ingin menyampaikan petisi kepada DPR-MPR. Lantas apa persinggungannya dengan menggulingkan pemerintahan," ujarnya sambil terisak. "Kalau kami ingin menggulingkan pemerintahan, berarti kami mengepung istana, bukan Gedung Parlemen, yang katanya disini adalah rumah rakyat."

Rachmawati pun meminta kepada pimpinan DPR, agar kasus ini tidak berlanjut. Ia meminta dikeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus dugaan makar tersebut.

Aksi damai 2 Desember 2016 di Monas Jakarta Pusat. (NET)

"Kami rasa ini adalah jalan terbaik, agar bisa berembuk bersama kembali ke UUD 1945," harapnya.

Merespons permintaan itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon berjanji akan meneruskan aduan itu kepada Presiden Joko Widodo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan.

Baginya, DPR memiliki wewenang dalam pengawasan atas pemberian status tersangka dan penahanan terhadap orang-orang yang dituding makar.

BACA JUGA:
Mega Ancam Pengusik Pemerintahan Jokowi-JK
Suami Sylvi Diperiksa Polisi Terkait Dana Makar
Tersangka Makar Akan Ajukan Uji Materi ke MK
Media Asing Soroti Makar yang Dilakukan Anak Soekarno

"Kami mendengar aspirasi mereka, apa yang terjadi sesungguhnya, bagaimana proses yang terjadi untuk disampaikan pada pihak terkait," ujar Fadli. "Kami melihat bahwa dari penjelasan itu, meski masih sepihak, masih banyak hal yang perlu didalami."

Sebelumnya, polisi telah menetapkan sepuluh tersangka dugaan makar. Mereka adalah Rachmawati Soekarnoputri, Alvin Indra, Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran. 

Polisi sudah melimpahkan berkas perkara milik Sri Bintang, Rizal, dan Jamran ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Sedangkan sejumlah saksi untuk Rachmawati masih diperiksa oleh penyidik. Sejumlah saksi itu yang telah diperiksa adalah Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Said Iqbal, musisi Ahmad Dhani, pengacara Egi Sudjana dan ekonom Ichsanuddin Noorsy.

YASSED SATRIA | LUTHER HUTAGAOL

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet"
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet"
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments