hero
Lilin duka yang menyala di rumah duka korban KM Zahro Express. (NET/Sigit Wicaksono)

EDITOR : REZA ADITYA

3 Januari 2017, 13:00 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Keluarga korban terbakarnya kapal motor Zahro Express berencana  mengajukan tuntutan terhadap otoritas pelabuhan Muara Angke dan pengelola bahtera. Tuntutan dilayangkan lantaran kedua pihak tersebut dianggap lalai sehingga menimbulkan insiden terbakarnya kapal yang membawa sejumlah wisatawan.

"Kondisi mama saya meninggal seperti ini dengan luka bakar yang cukup parah,kami menuntut pertanggungjawaban dari pihak pelabuhan," kata Johan Winaya, anak dari Tjung Tho Kie yang tewas dalam insiden mengenaskan itu, Selasa, 3 Januari 2017.

Tjung berencana berlibur ke Pulau Tidung merayakan awal tahun bersama keluarga dan sejumlah karyawan perusahaannya. Total ada 11 orang rombongan wisata yang dibawa perempuan berusia 65 tahun itu. Nahas liburan membawa petaka.

Johan Winaya, anak korban terbakarnya KM Zahro Express yang berencana menuntut otoritas pelabuhan dan pengelola kapal. (NET/ Sigit)

 

Baru sekitar 15 menit berlayar dari Muara Angke, mesin kapal terbakar. Tubuh Tjung hangus dimakan api. Sembilan orang lain yang bersamanya selamat, namun satu insan hingga kini hilang dan masih dalam pencarian tim penyelamat. Saat ini, jenazah Tjung berada di rumah duka Yayasan Jabar Agung, Jelambar, Jakarta Barat.

Johan tidak terima ibunya tewas dengan cara yang mengenaskan. Dia menyayangkan minimnya unsur keselamatan para penumpang dari otoritas pelabuhan dan pengelola kapal itu. "Jangan anggap semua manusia itu diremehkan, kami tidak terima," ujar dia.

Sebanyak 23 orang meninggal dunia dan 17 orang lainnya masih hilang pada insiden yang terjadi pada Ahad, 1 Januari 2017. Zahro bermuatan lebih dari 200 orang ketika mesinnya meledak dan terbakar. Para korban meninggal rata-rata disebabkan oleh luka bakar hingga 100 persen.

Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki insiden itu. Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan institusinya sedang memeriksa sejumlah saksi. Di antaranya adalah nahkoda dan anak buah kapal Zahro. 

"Beluim ada hasilnya, tapi semuanya kami periksa," ujar Tito, di Cimahi. "Apakah karena faktor mesin, maintenance, overload atau tidak. Tapi kami memang melihat ada sistem manifest yang tidak benar."

NIKEN SASI | JIMMY MARTINO

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments