Lian Gogali. (NET/Luthfi Evan Pradipta)

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO

30 Desember 2016, 14:05 WIB

SULAWESI TENGAH, INDONESIA

Lian Gogali memasuki ruang siaran berdinding kayu. Ia duduk depan mic dan komputer, menyapa pendengar. Di dinding menempel papan bertuliskan “Radio Mosintuwu: Bersuara Untuk Perdamaian dan Keadilan Poso”.

Perempuan berusia 38 tahun itu pendiri Institut Mosintuwu, organisasi masyarakat bidang perdamaian yang didirikan sejak 2009 silam. Institut Mosintuwu menyuarakan gagasan sejuknya di Poso, Sulawesi Tengah.

Lian Gogali. (NET/Luthfi Evan Pradipta)

Poso, merupakan daerah yang pernah tercabik konflik agama pada rentang waktu 1998 hingga 2001. Pihak yang menjadi sasaran Institut Mosintuwu antara lain perempuan.

Lian percaya bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam menciptakan dan merawat perdamaian Poso. Meskipun dalam setiap konflik, kaum perempuan dan anak selalu menjadi korban.

“Perempuan tak semata-mata hanya korban yang tak bisa berbuat apa-apa,” kata perempuan kelahiran Taliwan, 28 April 1978.

Lian Gogali. (NET/Luthfi Evan Pradipta)

Tahun 2003 hingga 2004, Lian melakukan penelitian kondisi perempuan dan anak pasca-konflik Poso untuk kepentingan tesisnya. Ia mewawancarai salah seorang perempuan korban konflik.

Tidak disangka, narasumber dari wanita yang kuliah dan tinggal di Yogyakarta ini mendapat pertanyaan yang cukup mengetarkan jiwanya. Pertanyaan itu seputar langkah apa yang akan dilakukan pasca penelitian.

“Aku malu, aku merasa hanya memanfaatkan mereka sebagai obyek penelitian,” kata Lian yang pernah meraih penghargaan Coexist Prize, New York 2012.

Perempuan di Institut Mosintuwu. (NET/Luthfi Evan Pradipta)

Lian akhirnya memutuskan kembali pulang ke Poso untuk ikut berjuang mengembalikan rasa damai di Poso lewat suara dan tangan-tangan perempuan. Untuk memberikan edukasi, Lian memanfaatkan radio komunitas dan kolom khusus di sebuah surat kabar harian lokal.

Institut Mosintuwu tidak hanya menyuarakan perdamaian lewat media massa tetapi juga membangun Sekolah Perempuan. Lian yakin, pendidikan menjadi salah satu cara mencerdaskan masyarakat, berpikir kritis, dan mampu mengembangkan dirinya sendiri.

“Seringkali perempuan tidak memiliki kemampuan berargumentasi untuk mempertahankan dirinya sendiri meski dia memiliki pengetahuan tentang itu,” katanya. Lewat pendidikan, sambung dia, "kemampuan berargumentasi perempuan diasah."

Perempuan di Institut Mosintuwu. (NET/Luthfi Evan Pradipta)

Peserta sekolah perempuan berasal dari berbagai desa di Poso. Sekolah ini diikuti semua kalangan dan beragam suku dan agama. Lama pendidikannya setahun dan hingga saat kini sudah menghasilkan tiga angkatan.

Nur Laely, salah seorang peserta Sekolah Perempuan Institut Mosintuwu, mengungkapkan selama sekolah dirinya diajarkan bicara di depan umum, cara menghargai orang, cara menghargai agama tetangga, dan sikap toleransi lainnya.

“Sekolah perempuan menambah banyak teman, pengalaman boleh dikata sudah membaik. Kalo dulu tinggal di rumah, tidak ada pengalaman,” ucap Nur Laely.

LENTERA INDONESIA | DYNAR MANGGIASIH | LUTHFI EVAN PRADIPTYA

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments